Opini  

Tragedi Pemukulan Ade Armando dalam Perspektif Budaya Minangkabau

Opini oleh: Irwan Malin Basa. (Dosen IAIN Batusangkar/pengkaji kebudayaan)

Tragedi pemukulan Ade Armando pada saat demonstrasi mahasiswa pada Senin, 11 April 2022 yang lalu memunculkan berbagai tafsiran dari berbagai perspektif yang berbeda pula. Berita pemukulan Ade Armando tersebut bahkan mengalahkan riuh renyah demo itu sendiri. Puluhan media meliput Ade Armando. Ada yang bersimpati, adapula yang tertawa, dan ada yang terdiam bahkan ada yang menghujat.

Mengapa pemukulan terjadi kepada Ade Armando saat demo? Menurut pepatah dan ungkapan bijak Minangkabau, sio sio utang tumbuah, apa maksudnya? Kehadiran Ade Armando di areal demonstrasi mahasiswa adalah sebuah kekonyolan. Yang berdemo mahasiswa, mengapa Ade Armando yang seorang dosen juga hadir disitu? Kalau alasannya ingin memantau demo, toh, bisa lewat media.

Kesia siaan Ade Armando datang ke lokasi demo itu mengakibatkan kerugian besar bagi seorang Ade Armando sendiri. Rugi fisik, rugi moral, rugi reputasi, rugi mental, dan rugi rugi lainya. Kalau tidak hari hati bersikap, sio sio utang tumbuah.

Apa alasan memukul Ade Armando di tengah demonstrasi? Kata petuah Minang, indak lalu dandang di aia, di gurun ditanjak an juo. Artinya, kalau tidak bisa melalui upaya formal (jalur hukum) untuk membalas sakit hati, maka dengan cara lain pun akan dilakukan. Apa yang pernah diucapkan oleh Ade Armando dianggap dan dirasakan sudah banyak menyakiti perasaan publik. Bagaimana cara membalasnya?

Ade Armando pernah dilaporkan, tapi tak kunjung diproses oleh pihak berwajib. Sementara kasus yang sama di pihak lain langsung diproses. Keadilan dan nurani publik ternoda. Maka meledaklah cara cara seperti pemukulan spontanitas itu. Kata urang Minang, Dima basuo, den sudahi.

Memang tak satupun alasan yang membolehkan pemukulan dan pengeroyokan semena mena seperti itu tetapi itulah realitas yang terjadi di masyarakat kita. Tidakkah peristiwa ini cukup menjadi pelajaran bagi kita? Maambiak contoh ka nan sudah, maambiak Tuah ka nan manang.

Pesan untuk Ade Armando, siang dicaliak caliak, malam didanga danga. Artinya, sadarilah situasi dan kondisi. Hati hati dengan kata katamu. Pandai pandailah menempatkan dirimu. Orang Minang itu biasanya bijaksana.

Baca Juga :  Tarik Ulur Pasangan untuk Pilkada Tanah Datar

Betulkah Ade Armando orang Minang? Entahlah. Dari berbagai browsing di internet, saya hanya menemukan bahwa Ade Armando berdarah Minang anak dari perantau Jus Gani dan Jusniar Gani. Tapi tidak disebutkan kampung asalnya, sukunya, apalagi Ninik mamaknya.

Ade Armando lahir di Jakarta th 1961. Sekolah Dasar di Bandung. SMP dan SMA di Bogor. Kuliah S1 di UI. S2 di Amerika dan S3 di UI lagi. Gado gado. Ya gado gado. Identitas budaya Minangnya tidak melekat. Pengalaman budaya Minangnya tidak original.

Semoga saja hal hal seperti ini tidak terjadi lagi di areal publik terhadap seseorang yang mungkin dianggap bersalah. Ade Armando juga warga negara Indonesia, butuh perlindungan hukum, memiliki kebebasan berpendapat dan berfikir. Tapi Ade Armando tidak memiliki kebebasan berbicara seenaknya tanpa mempedulikan perasaan sekelompok orang atau etnis, atau agama, atau profesi.

Jika memang Ade Armando orang Minang, maka bijaklah! Diukua mangko dikarek, diagak mangko diagiah. Mulutmu harimaumu, yang akan menerkam kepalamu. Basuo bana petuah tu di badan diri Ade Armando.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600