Tradisi Malamang di Nagari Guguak Malalo

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Annisa, Bunga Berliansyah, Annisa Nurullita

(Mahasiswa TBI IAIN Batusangkar)

banner 336x280

Keragaman budaya masyarakat di Indonesia telah memberi warna yang turut menciptakan harmonisnya kehidupan. Khusus di Sumatera Barat, ragam tradisi itu ribuan banyaknya. Sebagai misal adalah  Tradisi Malamang di Nagari Guguak Malalo, Kec. Batipuh Selatan, Kab. Tanah Datar.

Malamang adalah tradisi memasak lemang, yakni penganan berbahan beras ketan putih dan santan yang dimasukkan dalam bambu. Bambu tersebut adalah bambu yang dialas dengan daun pisang muda yang kemudian dipanggang di atas bara api. Tradisi kuliner khas Minang ini tidaklah secara khusus dilakukan menjelang bulan suci Ramadhan saja, namun juga dilakukan saat acara Maulid Nabi serta acara perhelatan atau selamatan.

Dalam sejarahnya, tradisi kuliner ini sangat erat kaitannya dengan peran Syekh Burhanuddin asal Pariaman. Ketika merujuk pada Tambo (kisah-kisah tentang asal-usul dan kejadian masa lalu di Minangkabau), dikisahkan bahwa Syekh Burhanuddin suka berkunjung ke rumah-rumah penduduk untuk bersilaturahmi dan menyiarkan agama Islam.

Sudah menjadi kebiasaan penduduk untuk menjamu para tamu, namun ulama tersebut agak meragukan perihal kehalalan hidangan yang disajikan oleh mereka. Selanjutnya, Syekh Burhanuddin pun menyarankan kepada penduduk yang dikunjunginya untuk mencari bambu dan mengalasinya dengan daun pisang muda.

Kemudian bambu diisi dengan beras ketan putih dicampur santan dan kemudian dipanggang di atas tungku kayu bakar. Dari sini, kebiasaan membuat penganan yang disebut lemang ini mentradisi. Nuansa kegotong-royongan sangat melekat dalam tradisi ini, ada yang bertugas mencari bambu, ada yang mencari kayu bakar, ada yang menyiapkan bahan-bahan dan lain-lain.

Biasanya malamang dilakukan pada saat menyambut hari besar, seperti hari Raya Idhul Fitri, Maulid Nabi, pernikahan dan perhelatan besar lainnya dan biasanya melibatkan warga sekitarnya.

Baca Juga :  Gulai Asam Durian Limbek Masakan Tradisional Nagari Talu

Malamang atau memasak lamang membutuhkan bahan-bahan dan peralatan, diantaranya: talang atau bambu, daun pisang, beras ketan, santan garam.

Sebelum malamang, perlu diperhatikan terlebih dahulu jenis beras ketannya. Jika ketan yang dipilih ketam hitam, maka lemang akan menjadi lemang hitam. Jika ketan berjenis ketan putih, maka lemang akan menjadi putih juga.

Adapun cara pembuatannya: pertama masuk ketan kedalam karung goni. Kemudian cuci ketan dalam karung goni tersebut, sehingga air ketan berubah menjadi agak bening. Usahakan mencuci ketan dengan air mengalir agar lebih mudah membersihkan ketan.

Setelah itu persiapkan bambu kira-kira sepanjang lengan lelaki dewasa. Bersihkan bagian dalam bambu dengan menggunakan kain yang dijepit dengan dengan kayu pipih. Lalu masukan daun pisang sehingga bagian dalam bambu tertutup sempurna, sisakan juga 5 senti bagian luar.

Kemudian campurkan santan dan garam, sampai santan terasa asin. Masukan campuran santan, ketan kedalam bambu tersebut. Usahakan ketan masuk dengan merata.

Selanjutnya, persiapkan tempat untuk membakar bambu atau tungku. Dengan cara tancapkan besi sejajar dan beri jarak sesuaikan dengan jumlah bambu untuk melamang. Ikatkan besi yang terakhir pada kedua besi tersebut menggunakan kawat, sesuaikan agar tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi.

Susun kayu bakar, kemudian hidupkan api didepan tunggu tersebut. Susun bambu di tungku yang telah disediakan. Tunggu sampai bambu menjadi layu, kemudian diputar sisi lainnya.

Ketan akan matang setelah beberapa menit. Ambil bambu, dinginkan kemudian ambil pisau untuk membuka bambu tersebut. Keluarkan lemang, potong sesuai ukuran.

Lamang yang sudah masak, dipotong-potong kecil atau sesuai ukuran. Agar lebih nikmat, lamang bisa juga dimakan dengan diberi campuran tapai, ada juga dengan pisang ataupun kue kecil lainnya. (*).

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan