Sekilas Jejak Ulama Tarekat Syatariyah dari Pariangan

Batusangkar, jurnalminang.com. Pariangan tidak hanya menyimpan ribuan sumber kebudayaan Minangkabau saja tetapi juga sebagai pencetak tokoh-tokoh hebat, ulama besar, pendekar silat serta pengusaha dari dahulu. Namun tokoh-tokoh ini belum pernah diekspos dan ditulis oleh media padahal mereka sudah berkontribusi untuk pembangunan serta pemikiran dan peradaban manusia. Media ini akan merilis sepak terjang tokoh tersebut setiap Minggu. Selamat membaca.

1) A.Dt.Panghulu Sati. (Ulama dan Mursyid Tarekat Syatariyah).

Ahmad Dt.Panghulu Sati adalah seorang Mursyid Tarekat Syatariyah yang terakhir di Pariangan. Beliau dikenal sebagai guru tarekat, ulama, tabib serta seorang pemangku adat. Beliau lahir di Pariangan pada tahun 1919 (tidak diketahui tgl dan bulannya) dan meninggal pada tgl 25 Desember 1999 dalam usia 80 th. Beliau memiliki koleksi ratusan kitab agama, tarekat, tasauf, pengobatan, adat serta naskah- naskah kuno Minangkabau lainnya. Beliau aktif mengajarkan ilmu tarekat di surau Parak Laweh Pariangan. Beliau anak dari Chatijah (ibu) suku Pisang dan ayahnya bernama Ibrahim atau yang dikenal Pandeka Barain (suku Dalimo Panjang). Pandeka Barain ini terkenal di seantero Luak nan Tuo dan Padang Panjang pada masanya karena beliau adalah pendekar silat yang sangat terkenal hebat dan memiliki ilmu Kanuragan yang mumpuni. Ahmad Dt.Panghulu Sati memiliki 5 orang saudara (4 laki laki dan 1 perempuan). Beliau memiliki istri dua orang: yaitu Sapiah dan Zuleka. Dari istri pertama memiliki dua orang anak yaitu Sabri dan Sabaniar (suku Pili). Sedangkan dari istri kedua memiliki 5 orang anak yaitu Zulkardi, Elma,Amril, Nasrul dan Yarmen ( Suku Dalimo Singkek).

Beliau belajar ilmu tarekat ke Koto Tuo dan gurunya bernama Tuanku Mahmud. Disamping ke Koto Tuo, beliau juga memiliki pertalian keilmuan ke Malalo dan juga pernah mempelajari ilmu beladiri silat ke Lintau. Namun bagi tokoh Tarekat Syatariyah, ilmu beladiri tidak terlalu menonjol karena mereka lebih banyak fokus kepada ilmu agama, praktek ibadah serta ilmu pengobatan.

Baca Juga :  Mendidik Anak dalam Seribu Hari Pertama Menurut Islam

Praktek ibadah tarekat Syatariyah oleh Ahmad Dt.Panghulu Sati yang terkenal adalah sholat 40 yaitu sholat berjamaah setiap waktu selama 40 hari yang diawali 10 hari sebelum bulan puasa dan berlangsung selama bulan Ramadhan sampai lebaran. Ketika tarekat Syatariyah berkembang pesat di Pariangan beliau memiliki ratusan pengikut dan jamaah baik dari Pariangan maupun dari luar daerah. Sampai akhir hayat beliau sudah ribuan murid yang beliau ajari berbagai macam keilmuan yang berasal dari berbagai daerah.

Beliau juga mengajarkan ilmu nahu Sharaf dan tulis baca Arab Melayu serta cara membaca kitab gundul. Beliau juga mengikuti tradisi ‘basapa’ ke Ulakan setiap bulan Safar di sekitar makam Syekh Burhanuddin di Ulakan. Disamping itu, beliau juga pengikut ‘hisab’ atau ‘maniliak bulan’ untuk menentukan puasa Ramadhan, Idul Fitri, lebaran haji serta peristiwa besar lainnya. (bersambung). IMB.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600