Sejarah Tenun Silungkang dan Perkembangannya Dari Masa ke Masa

Oleh: Annisa Azzahra (Mahasiswa Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas Padang)

Pada kondisi geografis di Silungkang yang tidaklah begitu besar dan dikelilingi bukit-bukit batu yang ditambah dengan kesuburan tanah yang kurang cocok untuk bercocok tanam, yang telah menempa orang Silungkang yang menjadi ulet dan tidak gampang menyerah. Dikarenakan kondisi alam itu pulalah orang Silungkang ini berusaha mencari sumber kehidupan diluar cara bercocok taman, yang mana kita ketahui orang Minang mata pencariannya yaitu dengan berdagang. Dahulunya orang Silungkang hanya membuka warung yang menjual minum dan makanan, dan ternyata usaha tersebut cocok dengan orang Silungkang tersebut.

Dari semulanya hanya berdagang minuman dan makanan, tahap demi tahap mereka maju lalu mulailah mengembangkan usaha dagangnya dengan jenis yang lainnya.
Lalu merekapun berdagang dari satu nagari ke nagari, dari satu daerah ke daerah lainnya. Pada sekitar abad ke 12 dan ke 13 pola berdagang orang Silungkang mulai berubah. Samudra pun mulai dilewati sampai ke semenanjung Malaka, bahkan ada yang sampai ke Pattani, di Siam yang sekarang dikenal dengan Thailand. Lalu di nagari Siam inilah para perantau Silungkang belajar tenun yang produk asli Thailand.

Setelah mereka mahir bertenun, mereka pun kembali ke tanah air. Ilmu yang didapatkan tersebut mereka ajarkan pula kepada kaum ibu-ibu di Silungkang. Maka semenjak itu pula mulailah beberapa wanita di Silungkang bertenun songket. Awalnya bertenun ini hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan keluarga saja. Namun lama kelamaan mereka pun mulai menerima pesanan dari tetangga, kemudian mereka juga mulai menerima pesanan dari pembesar nagari seperti kerajaan dan penghulu-penghulu nagari.

Dalam bertenun ini ada empat proses yang dilakukan yaitu:

  1. Memogeh
    Menghancurkan dan meluruskan serat-serat kapas mentah.
  2. Memuli atau membuhul
    Menyambungkan dan memintal kapas yang sudah lurus serat-seratnya sehingga menjadi benang.
  3. Mencelup
    Pencelupan pada waktu dahulunya hanya menggunakan bahan alami seperti kulit kayu, daun-daunan, tanah, dan arang.
    Getah pisang merah atau kulit ubi, ada juga dari campuran gambir dan soda untuk warna abu-abu.
    Daun pulasan yang direbus warna krem. Bunga lembayung untuk warna ungu.
    Arang kemiri untuk warna hitam.
    Gambir yang dicampur dan pulasan untuk wana kuning.
  4. Menuriang dan maani
    Menuriang, memintal dan maani merupakan merentang benang dan menyusun benang lusi atau yang disebut juga dengan togak dan menenun sampai menjadi kain yang dapat dipakai.
    Dan banyak lagi daun-daunan lain yang dipakai sebagai bahan pencelupan. Bahan pencelupan masih dipakai sampai tahun 1920. Jadi dahulunya proses menenun sampai menjadi kain yang siap dipakai dibuat dan diupayakan sendiri oleh warga silungkang. Begitu juga dengan peralatan untuk bertenun, semuanya dibuat sendiri, karoknya dari benang sedangkan sisirnya dari kulit longkok (tumbuhan yang sejenis aren).Perkembangan tenun pada periode 1340 – 1375 MPada periode ini merupakan awal perkembangan pertenunan di silungkang, pertenunan silungkang ini tumbuh dan berkembang yang menjadi sumber ekonomi masyarakat. Pada masa ini kerajaan pagaruyuang sedang di puncak kejayaanya, para raja dan dewan kerajaan memakai pakaian kebesarannya yang terbuat dari songket. Semenjak itu hampir setiap rumah di Silungkang menenun kain songket, alat tenun yang dipakai di masa itu masih memakai alat tenun gedokan yang sangat tradisional. Sedangkan benangnya hanya direntangkan untuk satu lembar kain lalu ditenun dengan memasukkan benang selembar demi selembar, dan digulungkan pada sebatang kayu yang lebih kurang seperti model alat tenun tradisional Palembang yang sekarang masih dipakai untuk peragaan.Periode 1376 – 1910 MPada periode ini kemajuan tenun silungkang sudah mulai beragam motif dan corak. Bukan hanya untuk pesanan istana akan tetapi juga sampai ke jambi, riau, jawa dan bahkan sampai ke malaka. Pada tahun 1717 Baginda Ali merantau ke malaka membawa seperangkat alat tenun songket yang dinilai lebih baik dari pada alat tenun yang sebelumnya, ukurannya pun cocok dengan kondisi orang silungkang. Pada tahun 1910 pemerintahan Belgia mengadakan expo hasil kerajinan di Tentoonstelling. Untuk mewakili Nederland indie, belanda meminta tiga orang silungkang untuk perwakilan yang ahli bertenun songket dan ahli sikek. Dikarenakan perjalanan ke eropa ini memakan waktu sekitar tiga bulan maka diutuslah satu orang untuk perwakilan silungkang yaitu Ande Baensah dan memperoleh medali perunggu.
  5. Tahun 1927
    Terjadi pemberontakan Silungkang atau tempat perlawanan rakyat Silungkang terhadap penjajah belanda. Pada saat ini banyak pejuang silungkang ditawan dan dibuang ke Boven digoel,papua. Pada tahun 1930-an sebagian dari pejuang silungkang tersebut sudah ada yang dibebaskan dan banyak diantaranya banyak yang tidak pulang ke Silungkang dahulu, akan tetapi mencari penghidupan di tanah jawa. Salah satunya yaitu karim gagok, disana ia tertarik dengan cara bertenun sarung sekaligus mengamati alat tenun yang digunakan. Karim gagok berprofesi sebagai tukang kayu, ia mengamati alat tenun yang di gunakan. Betelah beliau memahami dan mengamati barulah pulang ke silungkang, lalu mengajak beberapa orang tukang kayu membuat alat tenun bukan mesin (ATBM). Dengan hadirnya ATBM di silungkang ramailah orang bertenun yang beragam jenis kain, diantaranya kain sarung, Cibo (sutra), woleta (sapu tangan).
    Tahun 1942 – 1945
    Periode ini bersamaan dengan zaman penjajahan jepang, yang mana silungkang sudah menjadi sentral industry. Selain usaha tenun ada banyak usaha lain seperti rokok, sabun, dan kerajinan lainnya. Namun pada periode ini kondisi pertenunan silungkang kembali mengalami masalah besar dengan krisi bahan baku sehingga perusahaan tenun terpaksa bahan bakunya dari suto gulo-gulo (sutera palsu) krisi ini terjadi pada tahun 1945.
    Tahun 1972
    Pada tahun ini pemasarannya kembali banyak, pada saat ini bahan bakunya sutra bemberg yang sedang trend dipasaran.
    Tahun 2005
    Pada bulan juli, tim pergerakan PKK kota sawahlunto bekerja sama dengan dinas pendidikan, dinas pariwisata dan bagian pemberdayaan perempuan kota sawahlunto memutuskan pelajar TK, SD, SMP, SMA, PNS, pegawai BUMN dan BUMD untuk memakai baju berbahan kain tenun silungkang. Kebijakan ini mendapatkan pengaruh positif terhadap produksi tenun silungkang.
    Makin lama bukan hanya untuk baju dan sarung saja songket tersebut melainkan bisa menjadi kerajinan tas, dompet, hiasan meja, dan lainnya. Bahkan ada suatu organisasi di silungkang yang mengelola kain tenun songket tersebut menjadi barang yang unik. Organisasi tersebut bernama Sigekart yang dicetus oleh ibu Rita Fitri pada tahun 2021.
Baca Juga :  Dirjen Kebudayaan Kunjungi Destinasi Wisata Heritage Sawahlunto: Ini PR Kita Semua
Print Friendly, PDF & Email