Opini  

Rusa di Indo Julito; Legal atau Illegal?

Opini Oleh: Muhammad Intania, SH
Sekretaris LBH Pusako

Setelah kita membahas tentang Lapangan Cindua Mato (LCM), kini saatnya perhatian kita digeser sedikit dari LCM ke arah seberang Rumah Gadang Sekretariat Kantor LKAAM, tempat berkandangnya 4 (empat) ekor rusa peliharaan Bupati Tanah Datar.

Tulisan kali ini sumber datanya berasal dari Eka Dhamayanti, S.Hut. MT, Kepala Seksi Konservasi Wilayah II dan pegawai Seksi Konservasi Wilayah II pada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat serta beberapa literatur bacaan online.

Disebutkan rusa tersebut adalah jenis Rusa Timor (Cervus Timorensus) dengan jenis kelamin 1 ekor jantan usia sekitar 4 tahun dan 3 ekor betina dengan usia 2 dan 3 tahun yang direlokasi dari hasil penyerahan masyarakat sejak 7 Januari 2022 lalu. Kabarnya ada rusa tersebut yang mati, tapi untuk tulisan ini tidak begitu penting apakah benar ada yang sudah mati atau tidak. Yang jelas rusa itu masih ada.

Dengan masih belum dibukanya operasional Lapangan Cindua Mato yang lokasinya tidak terlalu jauh dari lokasi kandang “penangkaran” ataupun taman pemeliharaan rusa ini, maka keberadaan rusa tersebut seolah menjadi hiburan tersendiri bagi warga Batusangkar yang biasa setiap sore berkumpul di sekitar LCM. Namun, jangan bayangkan warga bisa bebas berinteraksi dengan rusa rusa tersebut karena ada larangan memberi makan rusa rusa tersebut.

Selain ada yang terhibur, juga ada yang menyayangkan bahkan mempertanyakan keberadaan rusa tersebut disana, khususnya para pencinta hewan peliharaan (Pets Lover). Menurut mereka, habibat rusa tersebut tidak cocok disana karena selain kandang penangkarannya yang terbilang kecil, juga lokasinya pas disamping jalan raya yang kerap menimbulkan kebisingan dan membuat rusa kurang nyaman dan cenderung dapat menimbulkan stress bagi rusa rusa itu. Untung saja literatur bacaan menyebutkan bahwa hewan rusa jenis ini termasuk hewan yang memiliki kemampuan adaptasi dengan lingkungan cukup tinggi, walau karakter umumnya sangat sensitif pada keadaan jika terjadi perubahan atau gangguan.

Baca Juga :  Pentingnya Team Work dalam Pilkada

Kebanyakan pecinta hewan menyarankan agar rusa rusa tersebut sebaiknya ditangkarkan dan dikembangbiakan di belakang Istana Pagaruyung karena lokasinya dianggap ideal. Lahannya luas dan banyak ketersediaan air serta banyak pohon pelindung dan dapat juga menjadi destinasi wisata baru bagi warga Luhak Nan Tuo dan tamu tamu dari luar daerah nantinya.

Jadi, alih alih menunjukkan semangat cinta hewan, tapi sebenarnya menempatkan kandang rusa di area bising dan kurang ruang gerak terkesan menyiksa hewan rusa tersebut karena tidak nyaman dengan kebisingan dan kurangnya lahan gerak untuk berlari lari yang hanya luas sekitar 1.000 meter persegi saja, padahal karakter hewan rusa memerlukan area luas untuk beraktivitas.

Pegawai Seksi Konsevasi Wilayah II menyampaikan bahwa saat ini (7 April 2022 red) perijinan penangkaran rusa tersebut masih dalam proses ke Pusat mengacu kepada Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sejak ditempatkan pada tanggal 7 Januari 2022 hingga saat ini status hewan rusa tersebut dititip rawat dan dalam pemantauan tim BKSDA.

“kadang kadang, alah samo lo jo karakter mato sipik; bisnis dulu, ijin urus kemudian, haiyaa” gumam Wan Labai.

Apakah area Indo Jolito akan dijadikan mini zoo? Konsepnya belum diketahui sampai saat ini. Kalaupun iya, selagi sesuai dengan peraturan perundang-undangan tidak ada masalah. Yang kita khawatirkan adalah terjadinya pelanggaran aturan terhadap sesuatu yang sudah diatur oleh undang-undang.

“Mungkin sajo ado paliharo ula bagai di halaman belakang, bia se lah, asal tuan rumah sanang jo hobby yang dapek manghilangkan stress itu. Asal jangan dikaitkan ke hal hal klenik alias mistik sajo” ujar Wan Labai yang dari tadi tamanuang kakanyangan selepas buka puasa.

Baca Juga :  Antara Webinar dan Ota Lapau

Bagi seorang kepala daerah dan pejabat publik, tentu apapun perbuatan, sikap dan ucapannya akan menjadi rujukan dan perhatian bagi masyarakat. Persoalan apakah suatu tindakan itu legal atau illegal, maka hukum adalah panglima nya.

Mudah mudahan saja rusa yang ada di Indo Julito itu legal dan tidak ada aturan yang dilanggar. Toh, masih ada ahli hukum dan tata perundang undangan di Setda Tanah Datar. Kecuali jika pesan ahli hukum itu tidak dihiraukan lagi. Yang didengar hanyalah bisikan orang di sekitar lingkaran kekuasaan yang mungkin tidak faham dan cenderung hanya berkata menyenangkan majikan. Mantap pak, bagus pak, cocok pak!

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600