Literasi Budaya News Pendidikan

Resensi Buku PARANGAI

Oleh: Irwan Malin Basa

Deskripsi Buku: judul: PARANGAI. Penulis: Undri. Penerbit: CV.Purnama Jemboan. Cet.perdana: Mei 2020. Halaman 220. +XII. Book paper + cover.

Sebuah buku yang berjudul PARANGAI karya Undri hadir ke tengah masyarakat Minang yang sedang haus mencari setetes pemahaman tentang nilai-nilai adat dan budaya yang sudah semakin berkurang. Diakui atau tidak, pemahaman generasi muda jauh berkurang tentang makna tuturan, pepatah, kiasan, pantun dan petuah Minang. Kebanyakan kita hanya pandai menyebutnya saja. Yang lebih aneh, kita sering salah pasang dalam memakai kata bersayap itu. Untuk pelepas dahaga itu buku ini sangat layak untuk dibaca dan saya sebagai seorang Tenaga Ahli Cagar Budaya sangat merekomendasikan buku ini dapat dijadikan suplemen adat dan budaya bagi generasi muda.

Buku ini ditulis dengan bahasa yang santai dan mudah dipahami sehingga semua kalangan bisa memahaminya. Berbagai petuah adat disajikan dengan makna yang lugas dan banyak ‘barang baru’ di dalamnya. Semuanya disusun dalam setiap halaman yang tertata rapi serta disebutkan sumber aslinya karena tulisan ini sudah pernah diterbitkan di media terkemuka di Sumatera Barat. Meskipun sudah pernah terbit di media tentu tidak semua orang pernah membacanya secara keseluruhan. Ketika sudah menjadi buku yang dikemas secara apik maka kita bisa membaca secara keseluruhan dan bisa dijadikan referensi.

“Tak ada gading yang tak retak”, begitu kata pepatah. Setelah saya baca buku ini sampai selesai, ada beberapa pilihan kata (diksi) yang bercampur antara bahasa Minang dan bahasa Indonesia. Misalnya, kata “dielakkan” yang semestinya ditulis diilak an atau diilakkan (hal.32) karena ini adalah bahasa Minang. Kata “palepeh” yang mungkin maksudnya “palapeh” Hal.49.). “Nan Buto pahambuih lasuang, nan pakak Palapeh badia. Kata “Palapeh” artinya orang yang melepaskan, meletuskan, dll.

Tapi serpihan yang tercecer itu tidaklah membuat nilai buku ini berkurang karena mungkin kesalahan di editing saja. Saya yakin seorang Undri sangat paham dengan makna dan nilai keminangkabauan karena kajian tersebut sudah menjadi “air mandinya” setiap hari di BPNB Padang. Kalaupun ditemukan beberapa dialek yang berbeda dalam menyandingkan kata-kata yang diurai, itu adalah pertanda luasnya Minangkabau. Undri dari Barat sementara saya melihat dari pusek jalo pumpunan ikan di Luak nan Tuo.

Buku ini di bak suluh dalam kegelapan yang dapat menerangi setiap perjalanan orang yang meraba mencari makna sebuah ungkapan Minang. Meskipun sudah ada beberapa buku yang hampir sama topiknya dengan buku ini, namun Undri berani tampil beda. Bagi saya, buku yang hampir sama juga sudah selesai di lay out dan merupakan sebuah produk budaya ketika saya mengikuti sandwich program di university Malaya, Malaysia th 2019 yg lalu. Buku saya ini diterbitkan di Malaysia dan oleh penerbit Malaysia. Buku saya dilengkapi dengan gambar karena generasi muda saat ini mungkin banyak yang tidak tahu lagi bentuk kata yang diucapkan. Misalnya, kata ‘pimpiang’. Sejenis tumbuhan tebu namun lebih kecil. Sering disebut “bak pimpiang dilereang” artinya orang yang tidak berpendirian.

Buku PARANGAI ini layak menjadi koleksi perpustakaan pribadi ataupun perpustakaan sekolah Anda. Untunglah ada seorang Undri yang masih peduli dan mau mengumpulkan petuah itu menjadi buku. Jika tidak, petuah itu kan terkubur nanti entah dimana dan mungkin mengirap ke angkasa sehingga anak cucu kita nanti tidak mengetahui lagi arti petuah itu.

Related posts

Bisa Jadi Duet, Basri Latif Jalin Komunikasi Dengan EP

Admin Jurnal Minang

Ruang Kreatif di Batusangkar !!!

Admin Jurnal Minang

Sekilas Jejak Ulama Tarekat Syatariyah dari Pariangan

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment