Randang Belalang: Sebuah Kuliner Tradisional Nan Lezat

Sebuah Reportase Kuliner Tradisional
Oleh: Irwan Malin Basa

Khazanah budaya Minangkabau takkan pernah habis digali. Setiap ada liputan budaya, festival, pesta ataupun jelajah budaya ke berbagai daerah pasti ada sesuatu yang baru kita temukan. Apakah itu tradisi, ritual, pakaian maupun kuliner.

Yaa…kami menemukan sebuah kuliner tradisional yang sangat langka di Jorong Lingkuang Kawek, Nagari Tanjuang Barulak, Kec. Tanjung Emas, Kab. Tanah Datar, Sumatera Barat. Kulinernya adalah belalang atau dalam dialek masyarakat lokal juga ada yang menyebut bilalang.

Masyarakat disini dari zaman dahulu sudah membiasakan memasak belalang dengan berbagai variasi. Ada belalang yang digoreng, dipanggang, digulai dan ada yang direndang. Di zaman sekarang masih ada yang membuat kuliner tersebut meskipun menemukan bahan utamanya belalang itu agak susah. Namun pada musim tertentu banyak yang menangkap belalang dan menjualnya.

“untuk membuat randang bilalang diperlukan bumbu lain seperti santan, langkok, bawang, cabe, daun limau, kunyit dan bumbu lainnya” ujar kak Siti salah seorang warga yang kami wawancarai di nagari tersebut.

Cara memasak rendang belalang hampir sama dengan cara memasak rendang daging namun randang bilalang tidak boleh terlalu sering dikacau atau diaduk ketika dalam kuali tersebut. Jika terlalui sering diaduk, dagingnya akan hancur.

Sebelum dimasak, belalang tersebut disiram dengan air panas. Kemudian kakinya yang sedikit berduri dibuang. Sayapnya ada juga yang membuangnya namun adapula masyarakat yang tidak membuangnya tetapi dimasukkan kedalam santan tersebut. Tergantung selera dan kebiasaan kelompok saja.

Untuk lebih mengetahui bagaimana teknik memasak belalang sehingga menjadi rendang yang lezat tentu butuh pendekatan lagi dengan tetua setempat karena masih ada bumbu bumbu asli yang sedikit dirahasiakan ketika kami bertanya.

Baca Juga :  Menyusuri Jejak Rumah Nenek Mega di Indrapura

“pokoknya kami siap untuk direkam ketika marandang bilalang dan akan kami tunjukkan proses dan bumbunya dari awal sampai akhir” ujar Kak Lela yang sudah berusia 65 tahun.

Randang memang memiliki banyak variasi. Ada randang dagiang, randang talua, randang lokan, randang pensi, dan adapula randang bilalang. Semua tradisi marandang tersebut sudah diwarisi oleh nenek moyang kita secara turun temurun semenjak zaman dahulu. Minangkabau memang kaya dengan kuliner tradisional khas mereka.

Dalam liputan singkat kali ini belum kami dapatkan informasi lengkap kapan saat yang tepat Randang bilalang ini disajikan. Apakah ada momen momen khusus? Atau adakah ritual khusus untuk makan randang bilalang? Tunggu liputan berikutnya. (*).

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600