Ragam Ukiran Tradisional Minangkabau di Museum Istana Pagaruyung yang Menakjubkan

Oleh: Kasdi Ray, SH

Sebagai anak Nagari Minangkabau mesti melestarikan warisan budaya yang ada di Minangkabau. Hal itu merupakan hak setiap warga etnis Minangkabau yang bisa menjadi upaya benteng budaya terhadap pengaruh budaya negatif dari luar yang demikian cepat datangnya sebagai akibat arus komunikasi global yang sekarang sedang melanda dunia ini. Salah satu bentuk warisan budaya material adalah bermacam “Ragam Hias Ukiran Tradisional Minangkabau” dalam Rumah Gadang di Sumatera Barat yang motif ukiran tersebut mencerminkan nilai luhur bangsa.

Salah satu bangunan peninggalan sejarah Indonesia yang menggunakan ukiran tradisional Minangkabau adalah Museum Istana Basa Pagaruyung di Batusangkar, Sumatera Barat.

Dengan proses pembuatan ukiran yang mahal menjadi salah satu faktor menyebabkan kebudayaan ini mulai banyak ditinggalkan. Perlu diperbanyak penelitian yang membahas tentang ragam hias ukiran Minangkabau menjadi sebuah karya ilmiah tertulis agar bisa diketahui masyarakat untuk memahami makna, struktur dan filosofinya.

Dengan menggunakan metode penilitian kualitatif deskriptif dengan analisis interaktif, terdiri dari tiga komponen analisis yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hal ini pernah dilakukan oleh Zulkifli (2009) dan juga Eko Alfares (2007) dalam tulisan mereka tentang makna ukiran Rumah Gadang di Minangkabau.

Hasil penelitian menjelaskan struktur kompenen dan makna simbolis dari setiap pola motif ukiran yang dipakai di lima bagian dalam Istana Basa Pagaruyung yaitu singok (atap), pintu, ventilasi, langit-langit, dan kaki istana. Motif ukiran berbeda di setiap tempat. Semuanya memiliki filosofi tersendiri.

Simbolis ukiran Minangkabau mencerminkan kehidupan sehari-sehari masyarakat Minangkabau yang dituangkan dalam sebuah pituah Minangkabau. Namun ada yang cukup aneh, tidak ditemukan gambar binatang yang bernyawa pada ukiran tersebut meskipun nama motifnya memakai nama binatang.

Baca Juga :  "Kelirumologi"di Museum Adityawarman Padang

Misalnya, ada motif ukiran yang bernama itiak pulang Patang, tupai managun, ula gerang, Tatandu manyasok, dan lain sebagainya. Tetapi perwujudan binatang tersebut tidak pernah ada yang nyata dalam motif ukirannya. Semuanya samar samar saja tetapi penuh dengan petuah.

Petuah-petuah tersebut mempunyai dua makna tafsiran yaitu denotatif dan konotatif, sehingga secara simbolis ukiran yang dibuat menyampaikan pesan yang tersirat dan tidak tersirat bagi setiap orang yang melihatnya, serta menjadikan sarana mendidik dan menegur masyarakat Minangkabau.

Kini Museum Istana Basa Pagaruyung terus dikembangkan dan fasilitas pendukung pun ditingkatkan agar wisatawan dapat terlayani secara maksimal serta betah berlama-lama di komplek Istano basa Pagaruyung. Ukiran adalah sebuah destinasi tersendiri sehingga museum kelihatan semakin menarik.

Terbaru, dilaksanakan pengembangan pembangunan areal parkir kendaraan untuk menampung pengunjung yang datang ke museum ini, serta puluhan petak toko souvenir diperkirakan selesai akhir tahun ini sehingga areal parkir tersebut dapat dimanfaatkan. Posisinya di sebelah timur museum dan berbatasan langsung dengan halaman museum.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600