Politik dan Pengaruh Nomor

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Irwan Malin Basa

Setelah selesai pengundian nomor urut untuk pasangan calon kepala daerah pada Kamis, 24 /09/2020 oleh KPU di daerah masing masing, ada fenomena baru yang terjadi. Seiring dengan keluarnya nomor paslon tersebut tafsiran dari setiap angka bermunculan pula. Semuanya menggunakan argumen, istilah, serta “falsafah” yang mungkin dibuat sesaat saja. Lebih tepatnya, penafsiran angka tersebut dicocok cocokkan atau kita sebut dengan “ilmu cocoklogi.”

banner 336x280

Dalam ilmu komunikasi beberapa ahli seperti Richard (2009), Foster (2000) menyebut bahwa dalam komunikasi yang paling penting adalah ‘pesan’ tersampaikan kepada ‘penerima pesan’. Dalam hal nomor urut calon, nomor tersebut diberi makna agar calon pemilih bisa lebih mudah mengingat siapa yang akan dipilih.

Namun yang paling penting adalah sekuat dan sesering apa tim sukses melakukan doktrin nomor tersebut kedalam memori konstituen sehingga mereka bisa mengenalnya ketika pemilihan. Hal ini perlu dilakukan meskipun bukan sebuah jaminan untuk kesuksesan. Ilmu doktrin bahasa ini tentu dimiliki oleh konsultan komunikasi politik. Tidak bisa hanya dibuat buat saja oleh “tukang sorak” dalam waktu sekejap.

Tetapi kesuksesan seorang calon tidak tergantung kepada nomor yang diperoleh. Nomor hanyalah salah satu bentuk “jualan” untuk membranding seorang calon. Dari data dan pengalaman pilkada maupun pileg menunjukkan bahwa nomor berapapun bisa menang dan pernah menang.

Berbicara masalah mitologi angka, setiap komunitas memiliki persepsi angka yang berbeda. Di beberapa belahan negara di dunia ini, angka 13 disebut angka “Sial” atau sering membawa apes. Persepsi tersebut tertanam kedalam black memory masyarakatnya dan sudah diwarisi secara turun temurun sehingga angka 13 tersebut ditakuti karena bisa membuat celaka. Padahal tidak selalu begitu.

Baca Juga :  Siswa SDN 02 Pariangan Peroleh Beasiswa Indah Cargo

Bagi masyarakat Tionghoa, angka 8 adalah angka favorit karena dianggap pembawa hoki atau keberuntungan. Angka 8 disebut sempurna karena pada angka 8 “tidak ada celah yang bisa mengganggu.” Begitu menurut mereka. Di komunitas lain, angka 9 dianggap lebih sempurna dan paling bisa beradaptasi karena mudah berkamuflase.

Di Minangkabau, angka berapa pun bisa dicarikan tafsirannya karena semua angka itu memang digunakan. Ditambah lagi, Masyarakat kita memang “pintar” menghubung hubungkan sesuatu dengan sebuah kejadian atau peristiwa. Kebenaran nya Wallahu alam.

Jadi, dalam konteks politik pilkada hari ini tidak perlu pula kita percaya kepada nomor urut. Apakah calon mendapat nomor 1, 2, 3, 4 dst hanyalah untuk mempermudah adminstrasi saja bagi penyelenggara pemilu. Toh, kalaupun tidak ada nomor urut sekalipun, misalnya disusun berdasar abjad nama, para konstituen juga akan tahu siapa yang akan dia pilih. Penyelenggara pemilu perlu juga mengkaji ulang tentang pentingnya aspek penomoran ini. Kalau memang tidak perlu, mengapa harus dipertahankan?

Yang paling penting, jangan sampai percaya bahwa ada nomor tertentu yang dipercaya membuat seseorang sukses. Politik itu meskipun “abu abu” tetap juga ada hitung hitungannya. Biarlah nomor itu tergantung di foto calon saja sampai pilkada usai.#

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan