Literasi Budaya News Pendidikan

Penjual Putu dan Pilkada

Sebuah Esai Irwan Malin Basa

Siang ini aku melihat seorang penjual Putu. Di tengah teriknya matahari dia berjalan perlahan sambil mendorong sepeda yang diiringi bunyi bunyian khas penjual putu. Dia tidak pernah berteriak ‘putu…putu…putu’ agar dagangannya laku. Dia hanya berharap masyarakat yang sudah mengenal bunyi khas penjual kue putu tertarik untuk membelinya. Tidak ada embel embel. Tidak ada janji janji. Dengan sekali teriakan dari masyarakat, ‘mas…putu!’ dia langsung berhenti dan bertanya dengan ramah. Yaa…begitulah sekilas kesederhanaan penjual putu.

“mas, darimana?” Tanyaku walaupun aku bisa menebak dia berasal dari Jawa. Dengan nada sangat sopan khas budaya Jawa dia menjawab “Jawa, pak.”

“eh…mas, sudah lama disini? Dan pernah ikut pemilu gak?” Tanyaku sambil memperhatikan gerak lincah tangannya membuat kue putu. “Sudah lama juga pak. Saya pernah ikut pemilu sekali” jawabnya santai penuh kejujuran.

Yang terbersit dalam fikiranku, walaupun seorang pedagang kecil masih mau ikut pemilu. Dia punya tanggung jawab bernegara meskipun pemimpin yang terpilih belum tentu memikirkan nasibnya. Mengapa? Karena penjual putu tidak punya partai politik yang bisa mewakili suara penjual putu secara khusus. Bagi mereka, sanggup saja berjualan setiap hari dan dagangannya laris manis sudah merupakan sebuah berkah yang besar. Tidak dikejar kejar dan diusir oleh petugas Pol PP dan petugas parkir ketika berjualan di pasar adalah sebuah anugerah.

Kini, pilkada akan segera dimulai. Beberapa Bakal Calon Kepala Daerah sudah mulai meneriakkan “dagangannya” dengan suara nyaring. Memberikan janji dan harapan kepada masyarakat yang belum tentu juga percaya. Bermacam atribut dan embel embel berjejeran dimana mana. Kadangkala, poster dan pamflet dipasang di rumah warga dan fasilitas umum tanpa izin. Semua balon mengaku yang terbaik dan yakin menang.

Tim suksespun berteriak lantang. Sering beradu argumen dengan orang yang berbeda pendirian. Kadangkala harus berbohong untuk meyakinkan bahwa calon yang dia usunglah yang paling hebat. Semua mengaku “ring satu” si calon meskipun ada yang belum pernah bertemu dengan si calon sendiri.

Mengapa kita tidak melihat makna tersirat dari penjual putu? Untuk menjual “putu” tidak perlu teriak teriak tetapi buatlah “suara khas” sehingga orang tahu bahwa itu adalah ANDA! Buatlah masyarakat KENAL dengan apa ciri khas ANDA! Konsisten dengan waktu sehingga masyarakat tahu “jam berapa” Anda “lewat.” Harga putu itu tidak mahal tetapi banyak orang ingin membeli. Kesederhanaan sangat penting. Tidak ada penjual putu yang arogan.

Meskipun dengan penuh kesederhanaan putunya tetap laku. Tak perlu pakai mobil mewah untuk lewat di depan rumah masyarakat. Kalau putu diusung dengan mobil mewah tentu masyarakat enggan untuk membeli karena harganya pasti mahal. Penjual putu bisa bersahabat dengan orang tua, dewasa, muda dan anak anak sekalipun. Telinga penjual putu harus nyaring mendengar setiap teriakan masyarakat walaupun dari seorang balita!

Demi pilkada yang “badunsanak” kita coba pilkada ini dengan penuh kesederhanaan, persahabatan, kekeluargaan dan persaingan sehat. Jangan katakan “putu” orang lain tidak enak, basi, murahan, tidak laku dan yang lebih ekstrem “tidak halal.” Siapa yang banyak “dipanggil” masyarakat, itulah “pedagang putu” yang sukses. Tapi ingat, kesuksesan itu tidak diperoleh dalam sekejap. Kalau kita baru lewat, siapa yang akan kenal?

Related posts

DPC Nasdem Mulai Galau dengan Balonbup

Admin Jurnal Minang

Jalan Sumbar – Riau Tertimbun Longsor

Admin Jurnal Minang

Produk Hand Sanitizer Buatan Dosen IPA IAIN Batusangkar Perlu Dikembangkan

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment