News, Opini  

Pemimpin Masa Depan

Oleh: St. Syahril Amga

Apa benar korupsi telah menjadi jaringan struktural yang sistematis dan terorganisir dengan apik? Apakah hal ini yang membuat terjadi krisis multi dimensi yang berlama-lama. Apakah dewasa ini masih era para “bandit besar” serta penjahat kelas kakap berpesta dan menari-nari di atas genangan air mata rakyat bawah. Bagaimanakah selanjutnya?

Akan habiskah korupsi kolusi dan nepotisme (KKN) pada kepemimpinan masa mendatang. Akan melahirkan ketimpangan sosial ekonomi politikkah pemimpin yang akan menjadi tampuk tangkai besok ini. Atau sebaliknya  membuat sejehterah rakyat pemimpin yang akan kita pilih tgl 9 Desember besok ini…?

Akan berbedakah watak para calon pemimpin yang akan kita pilih itu dengan orang yang memimpi yang berlalu. Atau akan seiramakah cara berfikir calon pemimpin yang akan datang itu dengan yang sudah-sudah. Atau akan  sama sama berharapkah kita keluar dari jurang kesusahan.

Atau, apakah masa datang ini menjadi era wakil rakyat di lembaga legislatif yang sering mengatasnama rakyat sudah tidak punya malu (maaf) dapat dikatakan tuli, tebal muka untuk mengkorupsi, merampok dan menjarah uang negara dan rakyat secara beramai ramai serta semena-semena. Atau ibarat kue, sama-sama membagi-bagi kue. Masih adakah kue yang akan dibagi-bagi itu dan atau hanya memimirkan rakyat.

Selain itu akankah kita memilih serta melindungi konglomerat daripada membantu rakyat kecil. Akan dibiarkan rakyat kecil itu digusur dan usir dengan berbagai cara tanpa menyediakan tempat yang layak untuk tempat mencari makan baginya. Akan dibiarkan rakyat kecil itu sekedar mencari makan pagi dan sore.

Mungkinkah situasi itu semakin diperparah oleh parpol yang menetapkan mahar yang bukan kecil untuk menuju pulau cita-cita. Akankah kita mempunyai pemimpin yang berwatak negarawan, ataukah akan mempunyai para penguasa dan elit politik yang berwatak politikus. Atau berwatak petualang politik serta pialang politik. Atau adakah yang akan berbuat baik, adil, demokrasi, jujur sekali lagi akan menyejehterakan rakyatkah.

Baca Juga :  Bupati Tanah Datar: Progul Mulai Berjalan, Jangan Terpancing Hoaks

Masa pemimpin tempo hari memang sudah berlalu, akan  tetapi nilai sistem dan ideologinya yang kurang baik bagi rakyat masih akan bersarangkah pada hati calon pemimpin yang akan kita pilih…? Karena setiap pemilih yang cerdas selalu memikirkan apa yang akan terjadi pada masa pemimpin mendatang. Dalam arti kata, bukan terjebak atas suguhan kepentingan sesaat. 

Hal ini tentunya membuat kita calon pemilih harus berfikir keras sebelum menentukan pilihan. Sebab  jika salah pilih lima tahun diantara kita akan menanggungkan kekacauan persoalan hidup. Pepatah Minangkabau pun sudah menyatakan “Pikie palito hati, nanang hulu bicaro, bangkiklah batang nan tarandam.”

Memilih pemimpin tidak obahnya memilih kepala dan yang kepala itu hanya hingga leher keatas. Pada kepala itu terletaknya mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk mencium, mulut untuk berbicara. Di bawahnya ada tangan dan kaki untuk bekerja, sudah dibayangkan kepatuhan kaki tanganya untuk bekerja itu…?

Kepatuhan kaki tangan itu bekerja adalah untuk mewujudkan cita-citanya (visi dan misi nya), bagaimana visi dan misinya. Beranikah ia  menegakan keadilan dan kebenaran. Justeru setiap individu dari warga kabupaten dan kota yang ada di Sumbar betul-betul merindukan keadilan.

Berbicara Sumatera Barat dewasa ini, jika dibandingkan lonjakan pembangunanya dengan provinsi Riau tetangga kita. Sumbar jauh tertinggal di belakang. Kenapa sampai terjadi hal itu. Apakah ini lepas dari sumber daya manusia yang memimpin……? Semoga.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600