Parlementawa 3: Ketua Manti Adat “Sakit Gigi”

Oleh: Muhammad Intania, SH

Kabupaten Tampuruang Data sebagaimana kabupaten lainnya juga punya lembaga Manti Adat yang dipimpin oleh seorang Ketua Manti Adat. Tapi apakah sama entah tidak antara Manti Adat dengan lembaga legislatif, Wallahu alam. Kalau misalnya sama, berarti kebetulan.

Awalnya Wan Labai kurang paham dengan istilah Manti Adat itu, tapi setelah Wan Labai bertanya ke Niniak Gonggong, maka dapatlah pengertian Manti Adat tersebut. Kira kira artinya penghubung kata atau penyambung kata. Makna lainnya adalah orang yang menjadi perantara kata dari rakyat kepada Penghulu Pucuk. Kira kira bahasa kekiniannya seperti penyambung aspirasi rakyat atau penyambung lidah rakyat. Karena itulah saking banyaknya lidah rakyat yang akan disambung, maka muncul istilah “ditampung” dulu karena tak cukup waktu 24 jam untuk sambung menyambung lidah, hehehe.

Lembaga Manti Adat Tampuruang Data ini adalah potret sempurna yang merepresentasikan kondisi rakyatnya sendiri. Semuanya telah direpresentasikan dengan penuh tanggungjawab dan bukan berpura-pura. Rakyat yang tinggal di gubuk sudah terwakili dengan kondisi gedungnya yang walau kelihatan megah tapi lotengnya banyak yang bocor dan WCnya banyak yang rusak.

Rakyat terpelajar juga sudah terwakili dengan lengkapnya fasilitas laptop dan internet kualitas terbaik untuk para Manti di gedung Manti Adat tersebut. Laptopnya juga laptop terbaik yang dipakai hanya 1 periode kemudian diganti lagi dengan yang baru. Sementara laptop yang lama entah kemana. Katanya sih, dibalikin. Demikian juga baju safari disediakan pakai uang rakyat agar bisa mencitrakan rakyat yang makmur gemah ripah loh jinawi.

Kurang apa lagi, hayo? Kendaraan untuk kumandan Manti pun kendaraan mewah. Rakyat tidak mau memberikan yang jelek untuk wakilnya, apalagi memberikan kendaraan bekas. Untuk itu begitu selesai 1 periode, maka kendaraan buka plastik langsung diperuntukan kepada pimpinannya. Tapi tetap ada sedikit biaya administrasinya. Keren kan? Itu lah hebat dan tingginya apresiasi rakyat Tampuruang Data kepada para Mantinya.

Baca Juga :  Kontradiksi Sikap DPRD Tanah Datar

Namun sayangnya belakangan ini sang Ketua Manti Adat suka “sakit gigi.” Kadang sakit giginya itu seperti dibuat buat sesuai situasi dan kondisi serta toleransi, hehehe. Contohnya: Perlakuan sang Ketua Manti Adat kepada Wan Labai dari nagari Subarang Bukik. Awalnya Wan Labai sangat hormat kepada Ketua Manti Adat sebab bersedia menerima kunjungan seorang petani awam seperti Wan Labai ini. Dilayani dengan baik di gedung yang megah ber AC yang membuat Wan Labai menggigil cemas karena selama ini terbiasa kena terik matahari.

Biasalah sebagai rakyat jelata, tentu kehadiran Wan Labai penuh harap mewakili kelompok petani agar turut diperhatikan dan diperlakukan sama dengan kelompok lainnya. Hari hari pun berlalu penuh harapan tanpa kepastian. Tentu saja Wan Labai dan kelompok petaninya merasa kecewa karena lidah rakyat yang sudah dititipkan tidak kunjung disambung dan malah diletakan di keranjang aspirasi begitu saja.

Ketika Wan Labai dan mungkin rakyat yang lain memfollow up, dianggap bawel dan merongrong. Ketika Wan Labai membuatkan undangan pertemuan, dianggap mengatur-atur jadwal para Manti Adat. Dan akhirnya Ketua Manti Adat pun mungkin pasang strategi “sakit gigi” kesel alias tutup mulut.

Nah, disinilah kontradiktifnya fungsi dan tugas Ketua Manti Adat sang penyambung lidah rakyat. Formalnya sebagai penyambung lidah rakyat, tapi mulutnya sendiri terkatup rapat. Informasi yang seharusnya menjadi informasi publik menjadi informasi yang tertutup untuk diketahui publiknya sendiri. Aneh kan?

Idealnya sebagai seorang tokoh publik tentu harus punya jiwa interaksi sosial yang tinggi. Punya kemampuan komunikasi yang baik, mau berbaur dengan semua level kalangan publik, baik itu dengan petani, buruh, karyawan, akademisi atau dengan siapa saja. Bukan dengan komunitas yang warna benderanya sama saja. Ingat lho, begitu menjadi tokoh publik, maka harus siap dengan segala konsekwensinya, termasuk siap dikritik. Atau apa karena takut dikritik sehingga menjaga jarak dengan rakyatnya sendiri?

Baca Juga :  Dari Rantau untuk Kampung Halaman

Idealnya Ketua Manti Adat setidaknya harus memiliki kecerdasan intelektual (IQ) yang baik, memiliki kecerdasan emosional (EQ) yang baik, kecerdasan spiritual (SQ) serta kecerdasan transendental (TQ) yang baik pula. Itulah gunanya pada saat diamanahi menduduki jabatan sebagai Ketua Manti Adat harus masuk pusat penggemblengan dulu. Dia harus dibekali dulu agar tidak malu-maluin nantinya. Toh biayanya juga dari rakyat. Tapi apakah itu dilakukan oleh sang Ketua Manti Adat ? Entahlah.

Lembaga Manti Adat semenjak dipimpin oleh Ketua Manti Adat ini prestasinya langsung melonjak tajam. Sudah beberapa produk hukum yang dikeluarkan oleh lembaga ini. Sebagai gantinya, para Manti Adat boleh bergembira ria keluar daerah untuk menghabiskan anggaran yang mereka sahkan sendiri agar tidak melanggar hukum di kemudian hari.

Tidak peduli daerahnya atau daerah lain sedang menghadapi pandemi Covid-19, para Manti Adat punya akses tak terbatas lintas daerah. Di saat anak sekolah harus daring dari rumah, para Manti Adat tetap bisa mendapatkan ilmu dengan cara berkunjung langsung ke daerah tetangga. Mereka tak mau pakai teknologi tinggi daring atau teleconference dan kirim data via email. Alasannya ingin merasakan langsung suasana tatap muka dengan pejabat terkait agar SPJnya bisa keluar.

Soalnya anggaran yang sudah dianggarkan itu harus dihabiskan (bahasanya harus direalisasikan). Kalau tidak direalisasikan, maka rugilah mereka dan pantang untuk merevisi anggaran sebab akan mengurangi pitih sadaqah para Manti.

Tidak usah bicara kepatutan dan moral, karena menurut mereka kepatutan itu adalah kepatutan versi mereka saja, bukan kepatutan dari sisi publik, dan moral itu adalah urusan pribadi masing-masing. Publik tidak tahu apakah ‘sakit giginya” sang Ketua Manti Adat ini adalah sebenar benarnya sakit gigi atau hanya bagian dari sandiwara politis yang dimainkan. Yang pasti ketika makan mulutnya masih komat kamit, tapi ketika bicara mulutnya seperti terkunci rapat. Begitupun ketika para Manti Adat diajak dialog publik, tapi tak sudi datang karena “sakit giginya” langsung kumat, hehehe.

Baca Juga :  LBH Pusako Bahas Kinerja 100 Hari Pemerintahan Eka Richi

Sampai kapan sang Ketua Manti Adat sakit gigi? Lai ka talok sampai akhir maso jabatan? Kalo indak, angkek se la bendera putiah tu. Pandai pandailah mamilah antaro kepentingan pribadi dengan kepentingan lembaga sarato kepentingan publik” kata Wan Labai.

Bialah rabab nan manyampaikan. Manti, oh Manti, oh Ketua Manti.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600