Nilai Religius pada Teks Naskah Cerita Nabi Nuh AS

Oleh: Fazri Nurul Huzaima (Mahasiswi FIB Unand, Padang)

(Bersumber pada naskah Cerita Nabi-Nabi Versi Azhari Al-Khalidi Rahmatullah)

Masyarakat zaman dulu mempergunakan naskah untuk memberikan sebuah informasi dari berbagai aspek kehidupan seperti sosial budaya, politik, ekonomi, pengobatan tradisional, serta fungsi religius untuk menyampaikan ilmu agama. Naskah juga merupakan peninggalan budaya berbahan tulisan yang mengungkap kejadian di masa lampau.

Naskah-naskah tersebut juga merupakan identitas warisan budaya yang berharga. Naskah mampu memuat nilai-nilai yang relevan yang bisa dijadikan sebagai objek pengajaran yang terkandung di dalamnya. Salah satu naskah yang bisa kita lihat tentang pengajarannya yaitu naskah Cerita Nabi-Nabi versi Azhari Al-Khalidi Rahmatullah yang ditulis dengan menggunakan aksara Arab-Melayu yang kemudian dialihbahasakan dari bahasa Melayu ke bahasa Indonesia. Naskah ini merupakan naskah cetakan. Dimana naskah ini merupakan kumpulan beberapa teks yang di dalamnya terdapat cerita para nabi, salah satunya teks kisah dari Nabi Nuh AS.

Teks naskah yang bisa dijadikan objek pengajaran religius yaitu cerita Nabi Nuh AS. Kita tahu bahwa Nabi Nuh AS. merupakan rasul ulul azmi yang kesabarannya tidak bisa tertandingi oleh masyarakat zaman sekarang. Teks cerita Nabi Nuh AS. mengisahkan perjalanan Nabi Nuh AS. dalam berdakwah selama sembilan ratus lima puluh tahun lamanya dan hanya sedikit dari pengikutnya yang mau bergabung. Banyak cobaan yang dihadapi oleh Nabi Nuh AS. dengan menyampaikan dakwahnya untuk meninggalkan berhala dan menganut agama Allah.

Banyak dari kaumnya yang mencemooh dan mempermainkan seruannya tersebut. Nabi Nuh AS. sangat sabar menghadapi kaumnya tersebut. Tidak henti-hentinya Nabi Nuh AS. selalu menyeru untuk menganut agama Allah. Kaumnya meminta Nabi Nuh AS. untuk membuktikan kebenarannya tersebut. Nabi Nuh AS. berdo’a kepada Allah dalam keadaan rasa kecewa dan sedih yang telah memuncak. Kemudian
Allah SWT. menurunkan hujan yang sangat lebat hingga menimbulkan banjir bandang yang sangat luar biasa dahsyatnya kepada kaumnya yang kafir dan menyalamatkan Nabi Nuh AS. serta pengikutnya dengan menaiki sebuah kapal yang Allah perintahkan untuk dibuat sebelum bencana banjir dahsyat itu terjadi.

Baca Juga :  Rubrik Parlementawa

Kapal besar itu berlayar selama beberapa hari hingga banjir tersebut setingkat dengan gunung, maka tidak mungkin ada yang selamat dari banjir yang mengerikan itu. Kaumnya binasa dengan banjir dahsyat tersebut termasuk istri serta anaknya. Nabi Nuh AS. sempat berdo’a kepada Allah agar menyelamatkan anaknya itu, tetapi Allah menegur Nabi Nuh AS. karena anaknya ingkar dan bukanlah bagian dari keluarganya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari teks cerita Nabi Nuh AS. tersebut seperti nilai akidah, dimana Nabi Nuh AS. mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah SWT. Nilai akhlak atau nilai moral, dimana Nabi Nuh AS. tetap berlaku lemah lembut dalam menyampaikan dakwahnya kepada kaumnya tersebut. Nilai kesabaran yang tidak tertandingi dalam berdakwah dengan segala rintangan serta cobaan yang ada. Ada juga nilai ibadah, dimana Nabi Nuh AS. selalu mengajak kaumnya berjalan menuju jalan Allah SWT. baik itu siang dan malam.

Kita sebagai manusia juga harus memiliki sifat yang bisa menuntun kita ke jalan Allah SWT. seperti sifat sabar jika ada sesuatu yang membuatmu marah, karena sabar itu menjadikan kita sebagai manusia yang mempunyai nilai tinggi terhadap sikap dan juga menjadikan manusia yang beriman dan mulia di sisi Allah SWT. terungkap di dalam hadistnya seperti HR. At Thabrani, HR Bukhari, serta dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 153. Tidak hanya sifat sabar, namun dalam beribadah hingga bersikap yang baik juga harus diterapkan manusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Di zaman sekarang, bahkan hanya sedikit yang mengetahui cerita Nabi Nuh AS. sebagai rasul ulul azmi adalah mereka yang memiliki keteguhan, ketabahan, serta kesabaran yang amat luar bisa tersebut. Bahkan di zaman sekarang bisa disebut generasi ‘Z’ juga tidak terlalu mementingkan adanya cerita-cerita atau kisah para nabi.

Baca Juga :  Menakar Peluang Caleg Baru Tanah Datar untuk DPRD Provinsi

Pesan pesan apa yang disampaikan para nabi dan rasul untuk selalu berjalan di jalan Allah SWT. sudah sering tenggelam begitu saja karena terlalu sibuk untuk budaya luar yang berkembang dan masuk. Akibatnya, tercipta sebuah trend budaya barat yang bisa merusak moral suatu bangsa. Itulah yang membuat mirisnya generasi zaman sekarang dengan banyaknya perubahan yang ada tanpa dipikir dua kali apakah hal yang dilakukan tersebut bisa menjaga atau menghancurkan suatu bangsa. (*)

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600