Nasib Perempuan Bekerja dengan Majikan Asing

  • Bagikan
banner 468x60

Kampar, JurnalMinang.Com. Dua orang wanita  yang dipekerjakan oleh PT.Arina Multi Karya Pekanbaru ke PT.Sanghiang Perkasa yang melaporkan dirinya terhutang dilaporkan ke polisi tanpa mencarikan jalan keluarnya yang baik.

Semulanya PT.Arina itu menyalurkan dua orang wanita ke PT.Sanghiang Perkasa. Oleh PT.Sanghiang kedua wanita ini disuruh berkeliling mencari bidan yang praktek di Provinsi Riau. Sesudah identitas bidan itu didapat kedua wanita itu diperintahkan untuk menjual produknya ke bidan-bidan tersebut. 

banner 336x280

Dalam tahun pertama kedua wanita ini ditergetkan menyetor penjualan produknya sebesar Rp.9.000.000 tiap bulan. Storan berjalan lancar dengan gaji tiap bulan Rp.2.500.000. Tahun kedua target setoran untuk Nyonya HS dinaikan menjadi Rp.47.000.000, dan gaji naik menjadi Rp.2.700. 000. Untuk Nona “RHD” dari target setoran semula Rp.9.000.000 menjadi Rp.27.000.000 perbulanya, gajinya ditambah Rp.200.000/bulan.

Semenjak target dinaikan 5 kali lipat dan 3 kali lipat itu hasil penjualan tidak mencapai target lagi oleh kedua wanita yang disebut agen 002 itu. “Hal itu antara lain disebabkan, karena bidan-bidan yang ditawarkan barang itu mengatakan bahwa produk yang sama di toko lebih murah. Contohnya jenis Chilkit merk Morinaga berat 200 grm, di toko menjual Rp.33.792/kotak dan yang belanja sampai Rp.2.000.000 dapat bonus sepeda anak-anak,” jelas kedua wanita tersebut mengulangi penyampaian bidan-bidan itu. 

Namun kepada kedua wanita ini, susu yang merk sama, berat yang sama itu, diletakan oleh perusahaan jauh di atas harga jual toko. Misalnya chilkit Morinaga itu diletakan Rp.35.200.  tanpa bonus. Sementara orang toko menjualnya Rp.33.792/kotak.

Pada sisi lain kedua wanita ini didesak mengejar target storan sebagaimana yang dinaikan perusahaan. Dilema ini membuat wanita takut majikan itu terpaksa menjual barang itu sama dengan harga yang dijual di toko-toko serta menjualnya ke kedai-kedai. Hal itu yang mengakibatkan kedua wanita lemah ini terpaksa gali lobang timbun lobang.    

Baca Juga :  Ribuan Pelayat Hadiri Pemakaman Wali Nagari Pariangan

Kejadian itu menurut wanita ini juga diketahui oleh Pimpinanya Rika Rahayu pada PT.Sanghiang Perkasa Provinsi Riau itu. Namun Rika Rahayu selaku pimpinan membiarkan saja akan tetapi karena sudah bertahun-tahun, kedua wanita ini merasa menumpuk hutang dan timbul ketakutan. 

Takut hutang tidak bisa terbayar. Karena itu tgl 24 Juni 2020 malam kedua wanita tersebut melaporkanya kepada Rika Rahayu selaku atasanya.

Rika Rahayu atas laporan kedua wanita itu mengatakan, biar besok di kantor dibicarakan. Nyatanya bukan dibicarakan dengan baik-baik, bukan mencarikan jalan keluar yang baik, akan tetapi Rika Rahayu tgl 26 Juni malam datang ramai-ramai ke rumah Nyonya “NS”. Di rumah itu rombongan Rika Rahayu mengancam dan mengintimidasi serta menekan dan memaksa kedua wanita tersebut.

Tim Rika Rahayu terdiri dari Didit, Septian, Solohin, Zulhajar dan Nurul. Setelah puas melakukan penekanan, wanita ini diancam dengan berbagai cara. Sesudah itu didiktekan untuk menulis surat. Walaupun kedua wanita itu membantah kalimat yang didiktekan itu karena tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, tetapi rombongan itu tetap memaksa agar menulis sebagaimana didiktekan dan membubuhkan tanda tangan di atas surat itu.

Dua hari sesudah itu tgl 28 Juni kedua wanita lugu tersebut dilaporkan ke Polres Kampar. Seiring dengan itu kedua wanita itu dikirimi pesan WhatsApp (WA) oleh Didit yang isinya menakut nakuti kedua wanita itu. Begitulah nasib bekerja dengan perusahaan yang bukan milik urang awak. (SA/red.Jm).

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan