Menggali Sejarah Tradisi Saluang di Minangkabau

  • Bagikan
banner 468x60

Tanah Datar, Jurnal Minang. Com. News&Web TV. Tim Dokumenter Budaya dari Jurnal Minang.Com melakukan pendokumentasian sejarah saluang tradisi di nagari Pariangan, Rabu, 23 Juni 2021. Dari kegiatan ini diperoleh seluk beluk informasi tentang saluang. Beruntung di Pariangan masih ada maestro saluang dan tukang dendang tradisi yang masih melestarikan saluang tersebut.

Maestro pewaris saluang tersebut adalah Rajunan Sutan Saidi dan seorang tukang dendang Am Malin Marajo. Mereka berdua memiliki keterampilan meniup saluang dan berdendang. Ada pula seorang penerus yang sedang mempelajari saluang tradisi tersebut yaitu Afrizal Sutan Rangkayo Endah.

banner 336x280

Menurut Rajunan bahwa saluang tradisi dendang Pariangan memiliki sekitar lima belas lagu khas Pariangan. Lagu lagu tersebut diangkat dari kisah nyata dari berbagai tema. Ada yang kisah hidup yang susah, miskin secara ekonomi, ada kisah asmara dan ada pula kisah kerinduan terhadap keluarga yang di rantau.

Lagu tersebut sudah diberi judul semuanya. Misalnya, lagu ratok Pariangan, ratok sara, ratok bayang, ratok saripudi, ratok kama, ratok sabu, lagu pontoang, lagu gadang, lereang batu api dan sebagainya. “Semua lagu tersebut memiliki keunikan dan perbedaan nada dan irama serta lirik pantun masing masing.

Am Malin Marajo menjelaskan bahwa cengkok cengkok atau “patah” lagu ratok Pariangan jauh berbeda dengan lagu ratok dari daerah lain. “Tukang dendang belum tentu bisa meniup saluang, dan tukang saluang belum tentu bisa berdendang. Tetapi ada juga yang busa keduanya; bisa berdendang dan bisa meniup saluang” ujar Malin Marajo yang memiliki nada suara tinggi yang khas meskipun sudah berumur 59 tahun.

Begitu pula dengan Sutan Saidi yang sudah berusia 68 th yang masih mampu meniup saluang dengan baik dan bisa memainkan irama lagu ratok Pariangan. Rajunan Sutan Saidi juga mewarisi dan masih menyimpan sebuah saluang tertua yang masih ada di Pariangan yaitu saluang ketek. Usianya sudah lebih 50 th. “Saluang ini diamanatkan oleh orang tua saya semenjak dahulu. Orang tua saya meninggal dunia pada usia 88 tahun dan beliau juga terampil meniup saluang. Namanya Dali Sutan Marajo” jelas Rajunan.

Baca Juga :  Makna Membantai Kerbau Bagi Penghulu

Saluang ketek tersebut berukuran lebih pendek dan lebih kecil dari saluang biasa yang ada sekarang. Bunyinya lebih melengking dan sangat cocok untuk lagu ratok. maestro peniup saluang ketek ini adalah Dali Sutan Marajo yang juga ayah Rajunan.

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan