Mengenal Tradisi “Kadaghek”

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Dr. Demina, M.Pd

(Dosen IAIN Batusangkar)

banner 336x280

Kadaghek merupakan suatu tradisi  masyarakat khususnya di nagari Tanjung Barulak kecamatan Tanjung Emas. Saat mayat terbujur di rumah gadang orang kampung datang menjenguk. Saatberita kematian didengar melalui bunyi tontong yang berbeda sesuai usia yang meninggal. Untuk anak kecil bunyi tontongnya satu kali ombak dan untuk orang besar atau dewasa bunyi tontongnya tiga kali ombak.

Tontong di kampung Tanjung Barulak terbuat dari kayu yang dilobangi dan diletakkan di guguak atau tempat ketinggian supaya bunyi tontong bisa didengar oleh masyarakat. Setiap kampung atau suku mempunyai satu tontong. Dengan bunyi tontong pada daerah tertentu mengabarkan masyarakat kaumnya yang berpulang ke rahmatullah.  

Setelah tontong berbunyi karib kerabat datang ke rumah duka dengan sebutan takojuik maambui. Setelah itu masyarakat/karib kerabat datang manjonguak sakali dengan membawa beras di piring/pinggan dan setelah mayat dikubur dunsanak datang manjenguk lagi. Kemudian ada istilah mandua ari yang merupakan istilah manjonguak setelah mayat dikuburkan.

Ada sesuatu yang harus dibawa ketika acara manduo ari. Sesuatu yang dibawa melihat dekatnya hubungan kekerabatan. Yang dekat hubungan kekerabatannya atau dengan istilah nan kontan seperti menantu, bako, amai, ande, dunsanak, membawa beras dalam pelang besar dengan isinya 5 macam; ada beras, makanan dan sambal. Isi pelang menjenguk ini dengan perubahan makna isi pelang yang dulunya merupakan makanan dan sambal hari ini sudah dibawa yang mentah seperti telur, gula, minyak. Hal ini secara filosofis untuk membantu ahli bait di rumah duka. 

Kadaghek dilakukan oleh masyarakat Tanjung Barulak pagi subuh setelah mayat dikubur. Kaum laki laki  datang ke kuburan setelah sholat subuh. Bagi yang sholat di mesjid langsung ke kuburan walau masih gelap dan sabak/agak gelap. Orang rumah yang berduka saat ini telah menyiapkan pencahayaan melalui lampu listrik yang dekat perumahan apabila pandam pakuburan jauh dari perumahan orang rumah menyiapkan genset untuk pencahayaan. Ketika zaman belum ada listrik dan genset kadaghek menggunakan lampu pusuang dan paling banter lampu srongkeng (stormking).

Baca Juga :  Antisipasi Corona Dinas Pendidikan Liburkan Siswa SD - SLTP

Kegiatan kadaghek subuh hari dan berkumpulnya orang laki-laki sekampung membawa uang seikhlasnya dan ditarok atau dimasukkan kedalam carano berisi siriah. Siriah di carano atau di pinggan disebar di sekeliling kuburan. Setelah cahaya matahari agak nampak (mulai terang) orang sipangka atau orang dan sanak saudara yang berduka membuka keheningan pagi dengan memohon maaf atas wafatnya almarhum dan dilewakan untuk semua yang datang dan akan dijawab oleh perwakilan yang datang dengan menanyakan kepada masyarakat yang datang, dan dijawab secara bersama “kami telah memaafkannya.” 

Kegiatan kadaghek selanjutnya apabila yang meninggal orang bagala (memiliki gelar adat) akan diumumkan dikadaghek penggantinya setelah musyawarah keluarga selesai. Dan selanjutnya  orang sipangka memohon kepada yang datang  membacakan doa untuk almarhum dan dunsanak yang datang juga menjauhkan pandangan siapa yang patut memimpin doa sampai selesai. Kegiatan kadaghek selesai sudah. Orang yang datang mulai satu persatu  meninggalkan lokasi / pandam pakuburan. 

Untuk sipangka dan dunsanak lainnya dimohon singgah ke rumah duka karena di rumah sudah disiapkan makan pagi dari makanan yang dibawa oleh ibu-ibu atau induak induak saat manjonguak manduari. Ada lauk pauk seperti dadar telur dan sambal lainnya serta sayur bening. Selesai makan pagi kegaiatan kadaghek yang penuh dengan adat salingka nagari, adat kebiasaan suatu tempat dan ritual keagamaan di kuburan menjemput fajar juga sudah siap karena kadaghek hanya dilakukan satu kali  pagi subuh setelah mayat di kubur. (Red).

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan