Budaya Kecamatan Pariangan Literasi Budaya Pendidikan

Mengenal Mitologi Padi Inyiak Bunian

Tanah Datar, Jurnalminang.com. Nenek moyang orang Minangkabau dikenal semenjak zaman dahulu sebagai masyarakat yang memiliki kearifan lokal karena mereka banyak belajar dari alam. Salah satu nilai kearifan lokal tersebut tergambar pada penamaan padi yaitu “Padi Inyiak Bunian.” Padi ini sampai kini masih ada tumbuh di sawah penduduk tanpa pernah ditanam oleh penduduk setempat. Mengapa padi tersebut bisa ada? Dan bagaimana masyarakat mempersepsikan serta memitoskan padi Inyiak Bunian tersebut?

Dari hasil penelusuran dan penelitian kebudayaan di Pariangan yang dilakukan th 2020 ini oleh salah seorang Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) dan juga dosen IAIN Batusangkar Dr (can) Irwan Malin Basa, M.Pd serta beberapa orang dosen biologi dan antropologi bahwa padi ini tumbuh sendirinya di sawah masyarakat tanpa pernah ditanam. Masyarakat menganggap bahwa padi tersebut ditanam oleh “Inyiak Bunian” pada malam hari. Padi ini biasanya tumbuh di tengah- tengah rumpun padi biasa. Padi ini biasanya dibuang oleh petani jika ditemukan ketika memupuk padi atau membersihkan rumput liar yang tumbuh dalam sawah karena dianggap bisa mengganggu pertumbuhan padi yang ditanam.

Padi ini memiliki buah yang halus, daunnya seperti daun padi biasa tetapi agak licin. Batangnya seperti batang padi biasa. Sewaktu buahnya masih muda berwarna hijau dan setelah masak berwarna coklat kekuningan. Buahnya mudah sekali jatuh ditiup angin. Jika bijinya bercampur dengan padi biasa, maka setelah dimasak padi tersebut sangat keras sekali dan tidak bisa dimakan. Tidak ditemukan jenis binatang apapun juga yang bisa atau suka memakan padi Inyiak Bunian ini.

Untuk mengetahui lebih rinci tentang padi ini tentu dibutuhkan kajian ilmiah oleh ahli pertanian sehingga bisa disimpulkan apakah padi tersebut benar-benar tergolong kedalam jenis padi atau jenis tanaman lainnya namun menyerupai padi. Menurut penelitian yang pernah dilakukan oleh para ahli dari Belanda pada th 1877-1888 bahwa di Minangkabau ditemukan sebanyak 139 jenis padi. Namun tidak ditemukan jenis padi Inyiak Bunian ini. Khasiat dan manfaatnya pun belum diketahui oleh penduduk setempat. Mungkin saja di daerah lain ditemukan jenis padi ini tetapi penamaannya lain.

Yang terpenting nenek moyang kita sudah “berani” menamai padi ini dan membuatkan mitosnya. Percaya atau tidak, itulah wujud perubahan kebudayaan kita karena budaya itu memang sering berubah. Manusia modern saat inipun masih meyakini Mitologi dan membuat mitologi itu sendiri tetapi dikemas dengan sifat keilmiahan meskipun tidak selalu benar. Misalnya, survey pilkada tak ubahnya sebuah Mitologi. Para politisi atau calon bisa saja percaya pada survey, tapi dia tetep tidak terpilih atau sebaliknya. (ADM).

Related posts

Kesiapan Menuju New Normal di Dunia Pendidikan

Admin Jurnal Minang

Mengenal “Angku Ampek Rangek Rajo” sang Pendekar dan Ulama Sufi Samaniyah dari Pariangan

Admin Jurnal Minang

Alumni 98 SMAN 1 Batusangkar Terdepan dalam Kumpulkan Bantuan untuk Atasi Covid-19

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment