Menakar Peluang Perempuan di Pilkada Tanah Datar

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Rahmad Dani

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Batusangkar

banner 336x280

Beberapa hari belakangan ini berbagai foto pasangan bakal calon Bupati dan wakil Bupati Tanah Datar semakin banyak bertebaran. Namun ada juga foto bakal calon yang masih sendirian. Mungkin masih mencari cari pasangan atau sekedar menarik perhatian masyarakat. Yang membuat saya tertarik untuk membahas foto tersebut adalah salah satu foto balon perempuan yang berani muncul untuk bersaing menjadi Bupati Tanah Datar. Untuk sebuah analisis apalagi kesimpulan tentu harus ada argumen logis dan ilmiah berdasarkan fakta yang ada.

Realitas politik hari ini bisa kita lihat betapa eksistensi perempuan semakin diakui. Ambil saja contohnya, ketua DPR RI Puan Maharani, Mentri Keuangan Sri Mulyani. Untuk kalangan akademisi, rektor ITB Bandung, Rektor UIN Ciputat dan berbagai IAIN di Indonesia termasuk IAIN Bukitinggi dipimpin oleh perempuan. Bupati Tangerang Selatan, Walikota Surabaya, gubernur Jawa Timur adalah perempuan. Artinya masyarakat Indonesia sudah mulai terbuka dan tidak mempermasalahkan gender dalam politik. Bagaimana dengan Sumbar dan Tanah Datar?

Untuk pilgub Sumbar ada wajah Edriana menghiasi bursa balongub. Persoalan apakah Edriana akan mendapat pasangan dan bisa ikut kompetesi jadi gubernur adalah persoalan lain. Untuk Tanah Datar ada Betty Shadiq Pasadigoe. Berbagai figur mulai dipasangkan dengan ‘Bundo kanduang’ tersebut. Siapa figur yang akan menjadi pasangan kelak tergantung kepada proses politik. Fenome seperti ini menandakan bahwa perempuan sudah “mendapat tempat” di hati masyarakat.

Dari berbagai diskusi serta kajian yang dilakukan oleh berbagai pakar di bidang sosial budaya, orang Minang memang cenderung “sulit” untuk menerima perubahan. Namun ketika perubahan itu “rancak” maka semua orang akan ikut. Seorang Betty Shadiq Pasadigoe diawal kemunculannya menuai sedikit protes dari kalangan agama dan kalangan adat tetapi akhirnya bisa diterima oleh pihak tersebut setelah ada pencerahan dari ahli agama dan ahli adat sendiri.

Baca Juga :  One Time One Choice: Ikut Terlibat atau Diam dalam Penanggulangan Bencana?

Selama ini kita sering terjebak dengan adagium “perempuan susah jadi pemimpin, tidak ada Datuk yang perempuan” dan berbagai alasan tradisional dan tidak logis lainnya. Dalam pilkada kita tidak memilih Datuk tetapi memilih Bupati. Di negara Asia seperti Indonesia, Pilipina dan Singapura, India, Pakistan dan Myanmar pernah dipimpin perempuan. Negara nya tetap maju dan bisa berdiri sejajar dg negara lain yang dipimpin oleh kaum laki-laki. Jadi, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan kepemimpinan perempuan.

Dulu, politik itu dianggap “abu-abu” tetapi hari ini politik itu logis. Ada survey, ada tim sukses, ada finansial, ada media. Semuanya terukur. Dari segi survey misalnya, beberapa lembaga survey terpercaya menemukan hasil bahwa elektabilitas seorang Betty Shadiq Pasadigoe banyak yang melebihi elektabilitas calon lain. Kita bisa membaca bahwa hasil survey itu adalah wujud representasi fikiran dan perasaan masyarakat Tanah Datar yang menginginkan perubahan.

Bagaimana potensi dan peluangnya? Tentu cukup besar. Banyak faktor yang bisa membuat seorang kandidat itu sukses. Misalnya, faktor wakil, faktor geopolitik, tim yg solid, isu kampanye, pembiayaan dll. Yang jelas, sejarah itu diciptakan bukan ditunggu datang dari langit. Kalau selama ini Tanah Datar belum pernah dipimpin oleh perempuan, mengapa tidak kita ciptakan sejarah tersebut?

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan