Memperkenalkan Sastra Sejarah Nusantara kepada Generasi Milenia: Babad

Oleh: Ghian Septa Ardianti
Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Andalas, Padang.

Naskah kuno mengandung berbagai informasi penting yang harus diungkapkan dan disampaikan kepada masyarakat sebagai media mendapatkan informasi menggali sumber sejarah. Jenis karya sastra sejarah di Nusantara mempunyai nama dan bahasa yang berbeda-beda pada setiap daerah seperti ‘babad’ dalam bahasa Jawa, Bali dan lain sebagainya. Berbicara mengenai babad, babad sebagai karya sastra sejarah, dapat digolongkan dalam historiografi tradisional, atau local tradition yaitu penulisan sejarah yang dibuat secara tradisional dengan mengandung unsur-unsur mitos, karena tidak semua babad mengandung cerita yang sebenarnya atau fakta.

Karya babad merupakan peninggalan yang sangat besar manfaatnya bagi bangsa Indonesia yang sadar akan hasil cipta karya nenek moyang pada masa dahulunya. Karena bagaimanapun babad merupakan sumber informasi tertulis dari berbagai hal tentang kehidupan dan peristiwa pada masa lalu yang ditulis oleh bangsa kita sendiri yaitu bangsa Indonesia. Karya-karya yang ditulis itu tentunya merupakan aset terbesar yang sangat berharga, karena mengingat bangsa kita yang terkenal akan lemahnya dalam menerapkan budaya tulis sehingga banyak warisan budaya yang masih dilakukan dengan budaya lisan yang juga hampir menghilang bersama meninggalnya para penutur.

Babad disinipun juga merupakan karya sastra tertulis, yang mana peranan sastra baik fisik maupun nonfisik dalam mengungkapkan aspek-aspek kebudayaan hampir sama dengan disiplin ilmu lain seperti: sosiologi, antropologi, sejarah dan ilmu bahasa lainnya. Karya sastra disini juga dibagi menjadi sastra modern yaitu berupa novel, puisi, drama. Sastra lama (kuno) seperti cerita rakyat, dongeng dan juga babad.

Salah satu contoh babad yaitu Babad Kangjeng Ratu Beruk. Babad yang merupakan peristiwa sejarah yang ditulis dalam balutan mitos, seperti Babad Kangjeng Ratu Beruk yang dalam kisahnya menceritakan seorang permaisuri raja yang mempunyai kesaktian, yaitu pada pusarnya yang mampu mengeluarkan cahaya terang. Karena kelebihannya itulah membuat Ratu Beruk yang awalnya hidup di keluarga yang sangat kekurangan hingga menjadi permaisurinya seorang raja dan hal tersebut mampu merubah kehidupan Ratu Beruk menjadi bahagia dan penuh kemewahan.

Baca Juga :  Lockdown Dalam Konteks Budaya Minangkabau

Selain babad mengenai Babad Kangjeng Ratu Beruk ini, ada juga jenis babad lainnya yaitu seperti: Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Surapati, Babad Kangjeng Ratu Kencana, dan masih banyak lagi. Semua babad itu merupakan karya sastra sejarah nusantara yang perlu dikenalkan kepada generasi muda, demi terjaganya karya sastra tersebut hingga nanti. Karena dengan itulah generasi muda tahu akan kisah kisah sejarah yang sempat terjadi. Seperti kisah Babad Kangjeng Ratu Beruk ini.

Awalnya Babad Kangjeng Ratu Beruk ini sebelum terdokumentasi secara tertulis, kisah Ratu Beruk selama periode dalam waktu yang cukup panjang hanya merupakan cerita lisan. Andaikata cerita Ratu Beruk ini tidak didokumentasikan dalam bentuk tulisan yaitu Babad Kangjeng Ratu Beruk, maka tidak menutup kemungkinan bahwa cerita Ratu Beruk akan punah bahkan tidak dikenal lagi oleh generasi sekarang atau generasi yang akan datang.

Generasi millenial merupakan generasi pengguna media sosial, baik untuk kepentingan pribadi, kelompok, ekonomi, eksistensi bahkan pencarian informasi. Pastinya generasi millenial merupakan generasi yang sangat akrab dengan teknologi internet, dimana handphone dengan sistem android yang menawarkan fitur-fitur dan aplikasi yang memberi kemudahan bagi generasi millenial untuk mengakses informasi seperti yang mereka inginkan.

Salah satu cara untuk mengenalkan sastra sejarah kepada generasi muda atau generasi millenial yaitu dengan cara memanfaatkan media sosial atau sistem android yang mereka gunakan saat ini. Karena dengan menggunakan alat itu maka dengan mudah generasi Millenial dapat mengakses informasi mengenai naskah kuno seperti babad tersebut. Hal ini sangat penting, karena untuk menghindari terjadinya discontinuity intelektual. Sebab, bila ini terjadi maka ini sangat berbahaya untuk kemajuan bangsa dan karya-karya lama yang telah diciptakan oleh nenek moyang pada masanya.

Baca Juga :  30 Sanggar Kesenian di Tanah Datar Ikuti Workshop Seni Pertunjukan

Generasi millenial harus diberikan informasi bahwa bangsa kita Indonesia ini kaya akan karya-karya sastra yang menarik. Seperti mempelajari babad, dari situlah para generasi muda atau generasi millenial mendapatkan sumber sejarah terkait apa saja yang pernah terjadi pada zaman dahulu yang tidak mereka ketahui. Melalui cerita dari babad itulah kita bisa menuai cerita sejarah tersebut. Mengingat generasi millenial saat ini yang suka berkata jika sekalaunya mempelajari sastra sejarah Nusantara, seperti babad, naskah kuno hingga manuskrip itu merupakan suatu hal yang tidak gaul atau terlalu kuno, maka untuk saat ini kata-kata itu harus dihapuskan.

Karena untuk mengetahui dan mempelajari hal penting di atas sangat berguna bagi perkembangan bangsa ini demi memajukan karya-karya bangsa dan generasi muda itu sendiri. Tidak menutup kemungkinan juga, hal itu pun juga bertujuan untuk selalu menjaga karya sastra tersebut agar tidak punah begitu saja jikalau tidak diperkenalkan kepada generasi muda saat ini. Selain itu, hal ini juga bertujuan agar generasi millenial di Indonesia juga dapat mengetahui apa-apa saja kekayaan karya sastra yang dimiliki negaranya. (*)

Print Friendly, PDF & Email