Opini  

Memaknai Baliho Yang Dicoret: Sebuah Catatan untuk Timses

Sebuah Opini Oleh: Irwan Malin Basa. (Pendiri Lembaga Studia Politika)

Meskipun pesta demokrasi Pileg dan Pilpres akan digelar tgl 14 Februari 2024 nanti namun sudah banyak bakal calon dari berbagai partai politik mulai memajang foto mereka. Berbagai bentuk foto seperti spanduk, banner, baliho dan sebagainya tampak menghiasi berbagai sudut kota sampai ke kampung. Tanda tanda mereka akan ikut berkompetisi nanti sudah terlihat meskipun nasib mereka masih di tangan ketua partai.

Apakah baliho yang sudah terpasang itu bisa bertahan tanpa dirusak tangan tangan jahil? Sejauh mana baliho tersebut bisa eksis dan berfungsi dengan baik? Apa makna coretan dan mungkin kerusakan yang ada pada baliho?

Kita ambil sebuah contoh baliho seorang bakal calon dari partai Nasdem yaitu Suherman. Baliho ini sudah terpasang beberapa hari di pinggir jalan raya Simabur di sebuah bangunan tua. Namun setelah beberapa hari, terlihat coretan di baliho tersebut yang bertuliskan ‘Cip 2 B.’ Apa artinya?

Pesan tersebut kemungkinan besar ditulis oleh orang orang iseng yang butuh Cip untuk main game yang memang marak di tengah masyarakat semenjak beberapa waktu belakangan ini. Penulis pesan sepertinya butuh bantuan dari Suherman. Kira kira begitu.

Tapi dari segi politik, ada juga yang memainkan teori ‘playing victim.’ Artinya, seseorang bakal calon dengan sengaja merusak balihonya sendiri baik secara langsung maupun melalui tangan orang lain untuk memunculkan simpati dari masyarakat sehingga muncul rasa untuk ingin tahu, ingin membantu sampai ingin memilihnya. Dia memposisikan dirinya sebagai orang yang terzalimi.

Sisi lain yang perlu dicermati adalah kejelian Tim Sukses atau sering disebut Timses dalam memasang baliho tersebut. Janganlah baliho itu dipasang di sembarangan tempat. Memasang baliho ada ilmunya. Ada kajiannya. Tidak asal tempel. Baliho adakah media komunikasi. Ada pesan yang ingin disampaikan. Ada seni yang artistik di dalamnya.

Baca Juga :  "Kelirumologi"di Museum Adityawarman Padang

Sebuah lembaga konsultan politik yang baik akan mengarahkan seorang calon atau kliennya untuk berbagai kepentingan politik agar bisa sukses. Sebutlah untuk baliho, mulai dari pemilihan foto, warna, pose, ukuran dan tempat pemasangan semuanya diatur dengan apik dan profesional.

Jika tidak didiskusikan dengan orang yang tahu alias asal pasang saja, maka baliho tidak akan berarti apa apa. Tidak ada manfaatnya. Timses yang asal asalan tentu perlu dievaluasi. Mereka perlu diedukasi.

Untuk melakukan edukasi dan pendampingan tentu perlu orang orang profesional. Calon tidak perlu sesibuk Timses pula. Calon adalah ibarat seorang marapulai yang ada saatnya senyum, ada saatnya turun ke lapangan, ada saatnya tampil menjadi tokoh. Jangan sampai calon ikut pula turun memasang baliho. (*)

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600