Budaya Literasi Budaya Pendidikan

Makna Membantai Kerbau Bagi Penghulu

Oleh: E. DT. Rangkayo Sati

Makna membantai kerbau ketika batagak gala (meresmikan atau mendirikan sebuah gelar penghulu di Minangkabau) hampir telah kehilangan tujuannya. Upacara ini sering dianggap sebagai seremonial belaka. Pada akhirnya ritual adat ini tidak membuahkan hasil yang bermanfaat. Bak kata pepatah, “minyak habih samba ndak lamak.” Mengapa? Karena kita kehilangan “bumbu nan sapinjik” atau hakikat yang sebenarnya.

Batagak gala selalu identik dengan batagak penghulu dalam suatu kaum.
Maka setiap kaum akan melaksanakan acara batagak gala ini baik yang karena sebab “patah tumbuah, maupun karena hilang baganti dan gadang balega.” Jika membantai kerbau ini belum dilaksanakan maka keberadaan seorang penghulu tersebut sering dianggap belum bisa duduk sama rendah dan tegak sama tinggi.

Mengapa? Karena makna membantai kerbau adalah seluruh kaum sepakat mengorbankan sifat “kebinatangan” yang ada pada sifat masing masing diri di kaum tersebut. Jadi acara membantai seekor kerbau bukan berarti sekedar untuk makan enak layaknya sebuah pesta. Tapi semua penuh arti.

Dengan dikorbankannya seekor kerbau tersebut maka “dipuasakan” atau menahan kehendak sifat kebinatangan pada masing masing diri dalam setiap kaum dengan tujuan berdirinya sifat penghulu pada tiap tiap diri pada seluruh kaum. Setiap manusia yang ada di kaum itu telah sepakat mendirikan sifat Penghulu pada masing masing dirinya yaitu Sidiq, Amanah, Tabliq, Fatanah.

Mendirikan penghulu dan membantai kerbau harus di rumah gadang. Mengapa? Karena rumah gadang
maknanya ialah Rumah Perhimpunan.
Hanya di rumah gadanglah Penghulu menjadi saksi atas segala perbuatan kaumnya. Di luar pada itu penghulu tidak bertanggungjawab atas perbuatan kaumnya. (Q, Al Anfal 35:
takluk pada penghulu, hukum namanya (Adat).

Pepatah adat mengatakan “kabau rabah santan tajarang.” Setelah itu sibuk para Bundo Kanduang memasak nasi dan setelah terhidang semuanya maka makan semua tamu yang sering disebut makan bajamba.
Seluruh tamu ditempatkan sesuai dengan aturan adat. Semenjak dahulu sudah ada ketentuan siapa yang duduk di atas bandua dan siapa yang harus dibawah bandua.

Sementara ada falsafah yang harus pula ditegakkan “nak Panghulu jamu nagari.” Maknanya adalah mencukupi
kebutuhan segenab perangkat badan diri; dekati segala “musuh” yang ada pada diri yang “berbisik bisik” sebangsa Jin dan manusia di dalam dada dan hati manusia. Dekati, tundukkan dan taklukkan!

Apa sifatnya? “Pantang kalintasan bersifat angin” bernama dia hawa. “Pantang karandahan sifat air” bernama dia nafsu. “Pantang kekurangan bersifat tanah” bernama ia dunia. Dan “pantang kalah adalah sifat nya syetan.

Itula sifat yang dikiaskan kabau yang akan dibantai secara syariat. Tetapi secara hakekat dibantai tidak membunuh dan menikam tidak mematikan. Dengan demikian, semuanya Seiya sekata, bak kata pepatah “ka hilia sahantak galah, kamudiak sarangkuah dayuang.” Artinya, seiya sekata namun tetap dalam koridor adat.

Dapat kita simpulkan bahwa “batagak Panghulu” bermakna mendirikan sifat Sidiq, Amanah, Tabliq, dan Fatanah. Tentu untuk lebih dalamnya tidak cukup sekedar dalam tulisan singkat ini. “Mangaruak sahabih gauang, ma awai sahabih raso.” Selagi hidung masih ditempuh oleh nafas tentu harus mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak banyaknya.

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah pantun Minang “baburu ka Padang Data, dapek ruso balang kaki. Baguru kapalang aja, bak bungo kambang tak jadi ” wasalam.

Related posts

SILATURRAHMI KETIKA PANDEMI

Admin Jurnal Minang

IAIN Batusangkar Sepakati MoU dengan Unand

Admin Jurnal Minang

Manfaat MGMP Bagi Guru Bahasa

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment