News  

“Macet Abadi” di Jalur Koto Baru, Gubernur dan Pemkab Tanah Datar Ditantang untuk Cari Solusi

Tanah Datar, Jurnal Minang.com. News&Web TV. Mungkin salah satu upaya untuk menuntaskan kemacetan jalan Nasional Padang Panjang Bukittinggi yang terletak di Koto Baru adalah dengan selesainya jalan tol Padang – Pakan Baru. Namun apa boleh buat pembebasan tanah hingga kini belum tuntas sehingga proyek tol masih terkendala sebagian.

Karena sudah lima gubernur Sumatera Barat, mulai dari Hasan Basri Durin, Muklis Ibrahim, Zainal Bakar,Gamawan Fauzi, Nasrul Abit, dan empat bupati Kabupaten Tanah Datar, Ikasuma Hamid, Masdar Saisa, Masriadi Martunus, M. Shadig Pasadigoe, sudah gagal mencari solusi mengatasi macet pada ruas jalan nasional Padang Panjang-Bukittinggi tepatnya di Koto Baru.
Menurut Wali Nagari Aia Angek Anwar kepada Jurnal Minang, Selasa 12/7-2022 mengatakan titik kemacetan ada di Pasar Koto Baru, Kabupaten Tanah Datar, dan Pasar Padang Luar, Kabupaten Agam.

Kemacetan terjadi pula di jalan alternatif. Jarak dari Padang Panjang ke Bukittinggi hanya 18 kilometer. Pada hari Kamis, jarak itu bisa ditempuh paling lama satu jam, Jumat satu setengah jam, Sabtu dua setengah jam, Ahad dua jam, Senin bisa tiga hingga empat jam, dan Selasa satu setengah jam. Kalau musim liburan anak sekolah atau libur hari besar keagamaan, kemacetan lebih parah bisa dilintasi tiga hingga lima jam.

Sempat reda sebentar, setelah bongkar muat truk yang akan membawa sayur mayur dipindah. Tapi rupanya hanya sebentar. Kini macet lagi.

Jalan alternatif menjadi salah satu solusi, yakni masuk dari Pasa Rabaa, terus ke Nagari Koto Laweh, Baruah, Tanjuang, Koto Tinggi dan keluar di dekat Pasar Amur. Kalau dari arah Bukittinggi, sebaliknya. Tapi jalan alternatif itu sempit, berliku-liku, rawan longsor dan terban, serta penuh tanjakan curam.

Baca Juga :  IAIN Batusangkar Mulai Kegiatan PBAK

Sering terjadi, ketika pengendara memutuskan untuk masuk jalan alternatif tersebut guna menghindari kemacetan di jalan nasional, eh…malah terjebak macet pula di jalur alternatif itu. Penyebabnya tentu macam-macam, salah satu sebab sempitnya jalan namun satu hal pasti, jumlah kendaraan yang melintas tidak seimbang dengan kondisi jalan kabupaten itu. Jumlah kendaraan yang masuk jauh melampaui daya tampung.

Beberapa walinagari yang daerahnya terkena dampak kemacetan akibat pasar tumpah Koto Baru itu mengaku, mereka sudah berulang kali diundang ke kantor gubernur untuk membicarakan masalah ini.

Warga Nagari Aie Angek termasuk yang paling ‘sengsara’ bila terjadi kemacetan di Koto Baru. “Jalan-jalan menuju perkampungan kami habis tersumbat oleh kendaraan yang berjejal. Anak nagari bersepeda motor, tak dapat jalan untuk membelok ke sini. Kendaraan dari sini, juga tak bisa masuk jalan utama,” kata Anwar. (KD/Red.Jm)

Print Friendly, PDF & Email