Opini  

Lapangan Cindua Mato, Riwayatmu Kini

Opini Oleh: Muhammad Intania, SH
Sekretaris LBH Pusako

aduh, lapangan tempatku pernah bermain, menyimpan sejuta kenangan, dulu sangat indah, kok hari ini masih berantakan” bisik hati seluruh masyarakat Tanah Datar meratapi nasib Lapangan Cindua Mato yang terbengkalai sampai hari ini.

Ada sebuah perumpamaan, belum ke Jakarta namanya kalau belum mampir ke Monas. Demikian juga dengan perumpamaan belum ke Batusangkar namanya kalo belum pernah singgah ke Lapangan Cindua Mato (LCM). Setidaknya begitu.

LCM ibarat adalah magnet bagi warga Luhak Nan Tuo. Banyak kenangan indah terukir bagi banyak orang, khususnya yang pernah bersekolah di sekitar LCM ini, mulai dari SD, SMP hingga SMA yang mengelilingi LCM ini.

Banyak kenangan manis terukir khususnya saat jam olahraga sekolah. Beragam murid dan siswa berkumpul disini dibimbing oleh guru olah raga masing masing. Ada yang latihan bola kasti, latihan senam, latihan PBB hingga latihan sepakbola mini serta latihan volley dan basket. Selepas latihan ada yang bergembira ria sambil bercengkerama, minum es cendol, es lilin, air tebu atau makan kerupuk pitalah kuah sate. Sungguh kenangan yang sulit terlupakan.

Bagi yang sudah dewasa dan banyak merantau ke luar Tanah Datar, LCM ini menjadi tempat favorit untuk reunian. Dapat mengikuti sholat Idul Fitri di LCM ini menjadi dambaan para perantau yang pulang setahun sekali dalam momen mudik Lebaran, apalagi kalau sudah melakukan kegiatan Pulang Basamo sambil flashback pada kenangan masa sekolah mereka dan bertemu serta bersilaturahmi dengan para teman sejawat dan handai taulan.

Namun sejak dilaksanakannya proyek Pengembangan Taman Kota Lapangan Cindua Mato sejak tahun 2020 hingga sekarang ini, segenap warga kota Batusangkar dan warga Luhak Nan Tuo lainnya tidak bisa menikmati fasilitas yang ada di LCM tersebut akibat dari pengerjaan proyek yang mangkrak. Sampai kapan? Wallahu alam.

Baca Juga :  ANTARA MUDIK, PULANG KAMPUNG DAN MUDIAK DI MINANGKABAU

Kini, banyak harapan warga tertumpang kepada kepemimpinan Era Baru untuk segera menyelesaikan persoalan ini agar warga bisa segera menikmati fasilitas LCM tersebut. Publik pun banyak tidak tahu apakah begitu LCM ini dibuka nanti masih bisa dipakai dan tersedia area untuk sholat Idul Fitri dan Idul Adha sebagaimana pernah dilaksanakan di tahun tahun sebelumnya.

Mengutip pemberitaan dari InfoPublik.id (27 Januari 2022) bahwa Bupati Tanah Datar, Eka Putra telah menanggapi isu, pertanyaan dan informasi yang berkembang di tengah masyarakat dengan cara mengunjungi Balai Prasarana Permukiman Wilayah Sumatera Barat (BPPWS) di Padang pada 26 Januari 2022 lalu (11 bulan sejak pelantikan sebagai Bupati terpilih).

Dalam kunjungan tersebut untuk memastikan tentang kelanjutan pembangunan yang dilaksanakan di Tanah Datar yang menjadi wewenang BPPWS. Karena kondisi proyek revitalisasi LCM yang mangkrak ini, maka hasil proyek belum bisa diserahkan kembali kepada Pemerintah Kabupaten Tanah Datar.

Sayangnya, Bupati kelihatan kurang tegas untuk meminta BPPWS agar segera menyelesaikan proyek tersebut dan tidak memberikan tenggat waktu penyelesaian. Terkesan bias agar proyek diselesaikan pada tahun 2022 saja tanpa memberikan time frame perkiraan kapan dilanjutkan pengerjaan dan penyelesaiannya.

Maka warga Batusangkar hanya bisa menunggu kepastian dari Bupati apakah sholat Idul Fitri pada awal Mei 2022 ini bisa dilaksanakan di LCM terlebih dahulu dan kemudian proyek dilanjutkan kembali dalam kewenangan BPPWS. Atau dibiarkan ditutup seng seperti kota yang kalah perang atau selepas ditimpa bencana alam yang dahsyat.

Keseriusan, perhatian, ketegasan dan kewenangan Bupati Eka Putra seolah diuji apakah mampu melakukan terobosan agar LCM dapat dipakai untuk sholat Idul Fitri pada awal Mei 2022 ini. Meskipun proyek ini dulunya dimulai sebelum Era Baru berkuasa, tapi kini beban itu ada di pundaknya. Bak kata petuah Minang, “tasandang lamang angek.”

Baca Juga :  SILATURRAHMI KETIKA PANDEMI

“Kalau Bupati bisa usahokan LCM bisa dipakai untuak pelaksanaan Idul Fitri 2022, tantu popularitas Bupati kembali naik. Namun kalau indak mampu, nan Batusangka ka mode mode itu juo nyo. Tunggu 2024 se lai cari gantinyo,” celoteh Wan Labai sambia bakirok mancari pabukoan.

Beberapa catatan pernah singgah di dalam memori sebagian masyarakat Tanah Datar tentang proyek ini. Awalnya sudah kurang baik. Mulai dari anggaran, mencabut bintang anggaran yang masih bertahan, proses tender, dugaan uang siluman dan pungli terhadap proyek tersebut, kontraktor “lari malam,” pemutusan kontrak dan lain sebagainya.

Ketika pengerjaan sedang berjalan, beberapa item yang ada di dalam lokasi tersebut juga sudah rusak. Misalnya, ikon pacu Jawi yang ada di lapangan tersebut tanduknya sudah patah atau dipatah oleh tangan jahil. Dan pernah viral di medsos kalau tanduk sapi di lapangan tersebut diberi warna biru. Entah pesanan atau tidak, hanya “setan” yang tahu.

Yaaa…..itulah kota Batusangkar yang disebut Luak Nan Tuo dan dilabeli Kota Budaya. Lapangan Cindua Mato yang merupakan alun alun kota, taman kota, paru paru kota, memiliki nilai sejarah, kini menunggu nasib untuk diselesaikan.

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600