Kontroversi Bank Nagari Menjadi Bank Syariah

Oleh: Rivian Anda Sari, S.E

Bendahara LBH Pusako

Sumatera Barat merupakan  salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki mayoritas muslim terbesar dan bisa dikatakan rumah bagi Masyarakat Minangkabau. Masyarakat Minangkabau menganut asas “Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”, artinya segala bentuk kegiatan Masyarakat Minang itu semua bersandikan kepada syariat Islam. Jika kita berbicara kegiatan Masyarakat Minang, tentu kita berbicara Sumatera Baratnya. Salah satu kegiatan yang sangat mencolok dalam memenuhi kebutuhan Masyarakat Sumatera Barat itu adalah kegiatan ekonomi.

Saat ini yang menjadi perbincangan hangat mengenai kegiatan ekonomi di daerah Se-Sumatera Barat yaitu mengenai Konversinya Bank Nagari konvensional ke syariah. Hal ini berawal dari pemahaman kita bersama terhadap bunga bank, karena sama- sama kita ketahui dalam syariat Islam, atas yang namanya bunga itu sama dengan riba atau haram hukumnya.

Salah satu cara untuk terhindar dari riba ini adalah dengan konversi atau hijrah ke sistem syariah. Untuk mencapai keinginan dalam berhijrah ini, pemerintah daerah Sumatera Barat memutuskan Bank Nagari untuk Konversi ke Syariah. Keputusan tersebut dituangkan pada hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) PT BPD Se-Sumatera Barat. Pada akhirnya Bank Nagari resmi konversi menjadi bank syariah. Keputusan penetapan konversi Bank Nagari menjadi syariah, disepakati atau ditetapkan dalam RUPSLB, tepatnya pada tanggal 30 November 2019 dengan cara aklamasi yang dilakukan oleh seluruh pemegang saham Bank Nagari sendiri, yang mana kata Humas Bank Nagari Aulia Alfadil di Padang, pada hari Senin. Ia menjelaskan, bahwa prinsipnya suatu upaya dalam usaha konversi dari bank yang bersistem konvensional menjadi syariah telah dilakukan sejak beberapa tahun belakangan. Akan tetapi dengan adanya penetapan yang dilakukan oleh pemegang saham pada akhir bulan November 2019, maka secara otomatis sistem beralih ke syariah.

Baca Juga :  Tim Penilai Posyantek Berprestasi dan TTG Apreasiasi Pemkab Tanah Datar

Keputusan tersebut beriringan dengan keberhasilan konversi Bank Daerah Aceh dan Bank NTB. Hal ini menjadi motivasi bagi Bank Nagari se-Sumatera Barat untuk merubah sistem dari konvensional ke Syariah. Berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) tersebut perubahan sistem keseluruhan ditargetkan akan selesai pada tahun 2021 nanti. Menjelang itu, Bank Nagari diberi waktu membenahi segala sesuatu yang dibutuhkan.

Ketetapan melakukan konversi bukanlah tanpa perencanaan. Namun sudah diproyeksikan jauh hari oleh Para pemegang saham yang sudah mengisyaratkan untuk Bank Nagari ini. Sudah ada pula kajian untuk memilih konversi atau spin off. Hal ini terjadi karena pada tahun 2023, akan diputuskan bahwa sudah ketentuan Undang-undang bahwa setiap perbankan yang memiliki unit syariah harus membuat keputusan yang tepat, apakah pemisahan diri dengan cara spin off atau malah ikut melebur dengan konversi ke syariah.

Mengenai Konversi Bank Nagari ke Sistem Syariah ini kembali dibahas pada saat perayaan HUT ke 58 saat itu dilaksanakan di kantor Pusat Bank Nagari. Tepatnya pada hari Kamis 12 Maret 2020.  Saat itu Plt Direktur Utama Bank Nagari Syafrizal menjelaskan mengenai konversi Bank Nagari ke-Sistem Syariah. Khusus mengenai Konversi ini  beliau meyakini bahwa pemegang saham sebagai pemilik bank telah mempertimbangkan dengan matang.

Bahwasanya kesepakatan atas putusan yang telah diambil merupakan hal yang terbaik untuk masyarakat Se-Sumatera Barat dan begitu juga Bank Nagari sendiri. Sebab katanya, dari karakteristik sistem perbankan syariah akan memberikan alternatif sistem yang akan menguntungkan masyarakat dan juga bank. Hal ini akan membangun aspek keadilan dalam bertransaksi, investasi dengan mengutamakan nilai kebersamaan atau kekeluargaan baik dalam produksi dan menghindari kegiatan  spekulatif dalam bertransaksi keuangan. Beliau juga berpendapat, konversinya Bank Nagari ke syariah sangat diminati oleh masyarakat Sumatera Barat, sebab sesuai dengan syariat Islam.

Baca Juga :  Luar Biasa, Wahyudi Tamrin Calon Kuat Ketua Koni

Berbagai pihak mendukung Bank Nagari Se-Sumatera Barat ini untuk konversi ke syariah. Pemerintah sendiri yang sebagai otoritas pengambil keputusan di sini, sungguh sangat antusias, apalagi berbicara dengan keyakinan atas namanya syariat. Tentu menjadi pedoman dimana kita daerah Minang, Sumatera Barat ini memang menganut Asasnya tadi “Adaik Basandi syara’, syara’ basandi kitabullah.” Begitu juga di kalangan masyarakat Minangkabau sendiri tentu mereka sangat setuju apalagi ini berbicara kaidah dan kegiatan ekonomi umat Islam. Tentu masyarakat ingin sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Dalam hal Konversi ini pihak luar juga sangat-sangat mendukung untuk bank Nagari konversi ke Syariah.

Namun dibalik semangat hijrah ini, baik dari kalangan pemerintah, masyarakat dan bank sendiri, semua itu tidak semudah yang diucapkan. Dalam permainan saja itu pasti ada tumpang tindih dan perseteruan. Begitu juga dengan hal yang terjadi dalam sebuah bisnis lembaga keuangan, yang ingin melakukan konversi ke syariah. Hal ini tidak segampang yang dibicarakan. Sebab ketika kita memutuskan suatu keputusan, tentu ini akan menutup sebuah sistem yang ada dan menggantikanya dengan sistem yang baru.

Hal ini tentu akan menghabiskan waktu dan tenaga sumber daya yang terkait. Seperti yang kita ketahui, konversi di sini artinya menutup/ membubarkan/ menghapuskan/ melikuidasi Bank Nagari yang dari sistem konvensional dengan asset sebesar Rp 27 Triliun dan akan membuka bank baru, yaitunya Bank Nagari Syariah yang mesti memindahkan seluruh kekayaannya pada bank lama kepada bank yang baru saja dibentuk. Dengan gambaran seperti itu tentu tidak semudah membalikan telapak tangan. Karena dari sebuah perubahan besar seperti ini akan ada nantinya kontroversi yang akan terjadi di berbagai kalangan.

Baca Juga :  Good Governance VS DPRD Tanah Datar

Saya sendiri sebagai Sarjana Ekonomi dari jurusan Perbankan Syariah di IAIN Batusangkar, sesuai dengan pengamatan dari awal keputusan ini terjadi, saya yakin perjalanan dari penetapan keputusan besar ini tidak akan mudah. Yang menjadi pertanyaannya akan adakah kontroversi itu? Seperti apa?

Bersambung…..

 

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600