Budaya Literasi Budaya Opini

Konsep Perempuan dalam Manuskrip Minangkabau

Oleh: Rahmad Dani

Mahasiswa Pascasarjana IAIN Batusangkar

Berbincang masalah perempuan di Minangkabau tidak akan pernah ada habisnya. Hampir semua seluk beluk perempuan sudah dituturkan dan bahkan sudah banyak yang dituliskan sehingga berbentuk manuskrip. Dalam tulisan kali ini saya merujuk kepada hasil penelitian Dr (can) Irwan Malin Basa, M.Pd yang pernah dilakukan pada tahun 2007 dan diselesaikan pada th 2009. Beliau sangat konsen dengan penelitian kebudayaan Minangkabau. Ketika kami meminta data- data penelitian untuk tulisan ini, dengan senang hati beliau berikan.

Sebuah manuskrip beraksara Arab Melayu, berbahasa Minang sudah ditransliterasi oleh Irwan Malin Basa sehingga bisa dikembangkan dengan cara analisis teks. Manuskrip ini bercerita tentang bagaimana “Konsep Perempuan di Minangkabau.” Sudah ada setidaknya tiga tulisan yang terbit dari hasil penelitian ini namun kami ingin tampil beda dengan perspektif kepemimpinan karena kebetulan saja tahun ini adalah tahun politik karna akan ada Pilkada serentak. Jadikanlah tulisan ini sebagai pembelajaran politik dan budaya sehingga kita menjadi orang yg melek politik dan melek budaya.

Teks dalam manuskrip hasil transliterasi. “Sungguahpun inyo parampuan, inyo basipaik laki laki. Apo nan tidak ditaruahnyo, salain bulan Jo matohari. Rang mudo salendang dunia, rang Kayo suko dimakan. Paham nyo aluih manakuak budi, tau dikiyeh kato manyandiang. Baragiah di nan tidak, barimaik di nan Ado. Lai pantang diagiah, indak bapantang disambunyikan… (Teks sambungannya akan dianalisis pada tulisan berikutnya).

Analisis teks. Dari transliterasi teks tersebut dapat kita maknai bahwa perempuan itu sebenarnya adalah pribadi yang tangguh sebagaimana layaknya laki laki. Dia adalah “orang kaya” karena memiliki banyak harta, rasa kasih sayang, perhatian serta kemampuan untuk mengatur berbagai hal. Sebagaimana gambaran teks tersebut diatas, hanya bulan dan matahari yang tidak digenggam oleh perempuan. Begitu mulianya orang Minang menaikkan harkat dan martabat perempuan.

Kemudian pada baris berikutnya dapat kita analisis bahwa perempuan itu murah hati. Dia rela membantu dan memberi apa yang dia punya ketika ada seseorang meminta pertolongan. Dia berpantang mengatakan ‘tidak’ jika dia mampu atau memiliki. Dia bisa berjiwa muda dan mengikuti selera milenial dan mau berkorban harta. Hal ini tergambar pada kalimat “rang mudo salendang dunia, rang Kayo suko dimakan.” Perempuan juga memiliki perasaan yang sangat halus dan cepat memahami maksud dari suatu pernyataan. Ini tergambar pada ungkapan “paham nyo aluih manakuak budi, tau dikiyeh kato manyandiang.”

Dari separo teks tersebut saja sudah tergambar bagaimana power seorang perempuan. Mereka bukan lemah, tetapi pada hakikatnya sama dengan laki laki. Kini, ketika kita diseret dengan berbagai informasi negatif tentang perempuan misalnya dalam Bacalonbup tentu manuskrip tersebut diatas bisa menjawabnya. Tidak patut pula kita mencari cari alasan tentang persoalan eksistensi perempuan tersebut. Kalau ada pihak yang bertanya secara akademis, layakkah perempuan menjadi kepala daerah? Saya jawab dengan tegas “sangat layak!”

Di Luak Nan Tuo sebagai pusek jalo pumpunan ikan, alangkah baiknya kita mulai memberi contoh kepada masyarakat lain bahwa perempuan itu juga layak menjadi pemimpin daerah. Tidak elok rasanya kalau kita takliq buta bahwa pemimpin daerah itu harus laki laki. Namun dalam hal pemimpin yang sudah ditegaskan oleh agama seperti imam sholat, khatib, dll tentu kita harus taat pada ajaran agama. Kitapun tidak mau menyalahkan yang benar dan membenarkan yang salah.

Saya yakin, jika tingkat literasi dan melek budaya orang Minang mulai meningkat maka tiada keraguan dalam hatinya jika harus memilih perempuan sekalipun untuk menjadi kepala daerah. Persoalan siapa yang akan dipilih adalah hak pribadi masing-masing. Bak kata para ilmuan politik, “kemerdekaan individu dalam masyarakat demokrasi itu hanya beberapa menit saja ketika dalam bilik suara, setelah itu mereka diatur kembali oleh sistem politik.” (Bersambung).

Related posts

Motivasi Perantau Maju di Pilkada Perlu Dipertanyakan

Admin Jurnal Minang

Mengenal Mitologi Padi Inyiak Bunian

Admin Jurnal Minang

ANTARA MUDIK, PULANG KAMPUNG DAN MUDIAK DI MINANGKABAU

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment