Di Balik Kunjungan Anies Baswedan Ke Sumbar: Akankah Prabowo Effect Berakhir di Ranah Minang?

Opini Oleh: Muhammad Intania, SH
Ketua Simpul Anies Presiden (S1AP) Kab. Tanah Datar

Kunjungan Anies Baswedan ke Sumatera Barat pada tgl 03-04 Desember 2022 lalu sebagai bagian dari rangkaian safari politik keliling Indonesia untuk sosialisasi diri sebagai Calon Presiden RI tahun 2024-2029 telah memberi pengaruh positif pada mayoritas masyarakat Sumatera Barat.

Pengaruh positif tersebut dapat dilihat pada antusiasme masyarakat yang menyambut kedatangan Anies Baswedan ke Ranah Minang secara meriah, tertib dan terkoordini. Mulai dari Bandara, di INS Kayu Tanam, selama kunjungan di Kota Padang Panjang serta selama acara gerak jalan santai di Danau Cimpago Pantai Padang. Begitu pula acara pertemuan dengan sekitar 31 kelompok Relawan di Hotel Truntum Padang dan dalam pertemuan dengan para tokoh masyarakat di Masjid Baiturrahmah Padang.

Walau selama dua hari kunjungan Anies Baswedan ke ranah Minang tersebut disambut oleh cuaca gerimis dan hujan, namun tidak menyurutkan animo masyarakat untuk bertemu dengan tokoh harapan baru mereka untuk memimpin Indonesia kelak pada 2024 nanti.

Merupakan fenomena yang menarik dimana cuaca gerimis dan hujan menjadi ajang pembuktian kecintaan masyarakat Minang yang datang dari beragam kabupaten kota di Sumatera Barat untuk tetap teguh menyambut kedatangan tokoh pembaharuan yang mereka nantikan.

Dari pantauan penulis juga menemukan fenomena menarik dimana para relawan Anies yang tergabung dari beragam simpul relawan ternyata banyak berasal dari mantan relawan dan pendukung Prabowo Subianto dulu, capres dari partai Gerindra pada pilpres 2019 lalu yang untuk tahun 2024 memutuskan untuk mendukung Anies Baswedan yang saat ini diusung oleh partai NasDem.

Terlepas Anies Baswedan nantinya dapat tiket untuk maju sebagai calon presiden setelah memenuhi 20% syarat presidential threshold atau tidaknya, namun optimisme dan pembuktian komitmen telah ditunjukkan oleh para relawan dengan sukarela sesuai kemampuan masing masing.

Baca Juga :  Menganalisa Postur Perubahan APBD Tahun 2022 Kab. Tanah Datar: Kompromi Siapa?

Fenomena antusiasme dan semangat yang ditunjukkan para relawan tersebut agaknya mnjadi berkah tersendiri bagi partai NasDem Sumatera Barat karena tanpa terlalu banyak usaha dan koordinasi, telah mendapat dukungan sukarela dari para relawan yang tidak terafiliasi sama sekali dengan partai NasDem tersebut.

Kondisi mendapat dukungan sukarela tersebut bagaikan kondisi yang pernah dialami oleh partai Gerindra Sumatera Barat dimana para relawan dan pendukung bahu membahu meyakinkan publik bahwa tidak ada pilihan lain selain Prabowo Subianto pada pilpres 2019 lalu tersebut.

Perlu diketahui bahwa pada pilpres 2019 lalu hanya ada 2 pasang kandidat pasangan capres cawapres. Sehingga tidak ada pilihan alternatif selain 2 opsi di atas.

Hal tersebut terbukti pada pilpres 2019 pasangan Prabowo Subianto – Sandiaga Uno yang diusung Partai Gerindra, Partai PKS, Partai PAN, Partai Demokrat, dan Partai Berkarya menang mutlak di Provinsi Sumatera Barat dengan raihan 2.488.733 suara atau setara 85,95 %.

Dan dengan membaca banyaknya relawan mantan pendukung Prabowo yang cukup berpengaruh membawa massa memilih hijrah / hengkang untuk mendukung Anies Baswedan, yang fenomenanya dapat ditemui saat menggalang penyambutan kunjungan Anies Baswedan ke ranah Minang pada awal Desember 2022 lalu dengan kehadiran massa ribuan dan puluhan ribuan di beberapa lokasi, dan bahkan kehadiran massa Anies Baswedan saat acara jalan santai bersama di Danau Cimpago Pantai Padang yang jumlah menyamai kampanye capres Prabowo pada 2019 lalu, agaknya menjadi bukti bahwa periode “Prabowo’s effect” berakhir di ranah Minang.

Banyak alasan yang menyebabkan para relawan mantan pendukung Prabowo memilih untuk hengkang. Beberapa poin yang bisa penulis rangkum adalah sbb:

  1. Kekecewaan relawan karena pada akhirnya Prabowo memilih untuk bergabung dalam kabinet Jokowi yang notabene adalah rivalnya saat pilres dulu.
  2. Relawan mempertanyakan kenapa tidak memilih sikap menjadi oposisi ketika sikap yang sama ditunjukkan oleh Megawati saat kalah dari SBY. Kemudian sama sama lagi membangun kekuatan sehingga harga diri dapat dipertahankan. Padahal Prabowo adalah seorang berlatar belakang militer, diharapkan ketegasannya. Namun karena memilih bergabung dengan kabinet Jokowi, banyak relawan yang malu kena bully di medsos dan harga diri mereka jadi runtuh padahal dulu mereka telah berjibaku untuk memenangkan Prabowo.
  3. Selama kurun waktu 2019 hingga 2022, tidak banyak prestasi yang ditunjukkan oleh para kader partai yang duduk di DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi maupun sebagai Kepala Daerah / Wakil Kepala Daerah, sehingga menambah komitmen mantan relawan untuk migrasi mendukung tokoh lain yang lebih potensial. Juga tidak ada semacam kunjungan terima kasih Prabowo selepas kalah dalam pilpres kepada masyarakat Sumatera Barat yang telah mempercayakan suara terbanyaknya kepada Prabowo.
  4. Sebagian mantan relawan menganggap bahwa partai Gerindra besutan Prabowo ini bukanlah partai yang demokratis, menganut sistim mandat. (putusan dari atas ke bawah) dan kurang mendengarkan aspirasi kader di lapis bawah / akar rumput.
  5. Diduga pemberhentian pengurus partai menyangkut kedekatan dan lobi serta faktor X lainnya. Hal ini bisa dilihat dengan banyaknya kasus penghentian / pergantian pengurus partai dan dimasukan kembali seseorang menjadi pengurus partai seperti yang pernah terjadi di Kabupaten Tanah Datar, Kabupaten Solok, Pariaman, dll. Sehingga membuat mantan relawan agak alergi untuk kembali mendukung Prabowo dan partai besutannya
Baca Juga :  PKBM GEMPITA,Penyambung Hati Nurkhalis Dalam Mimpi Anak Petani

Mengevaluasi sambutan masyarakat Minang kepada Anies Baswedan dan banyaknya relawan ex Prabowo yang hijrah mendukung Anies Baswedan serta dampak politis yang ditimbulkan oleh kunjungan Anies Baswedan ke ranah Minang tersebut, maka wajar kiranya pengurus Partai Gerindra Sumatera Barat untuk waspada dengan banyaknya massa yang akan beralih dukungan meninggalkan Prabowo Subianto dan Partai Gerindra.

Maka banyak pihak yang mencoba menggagalkan Anies untuk jadi calon presiden, sebab jika calon presiden lebih dari 2 pasang kandidat, maka dapat dipastikan pamor Prabowo dan Partai Gerindra akan runtuh baik di skala provinsi maupun dalam skala nasional.

Dengan adanya 3 atau 4 pasang calon presiden – wakil presiden nanti, maka penulis memprediksi bahwa kejayaan partai Gerindra mungkin tinggal kenangan, setidaknya di Provinsi Sumatera Barat.

Indikator kejayaan atau tidaknya tersebut dapat dilihat nanti saat kunjungan Prabowo ke Sumatera Barat dalam rangka kampanye. Apakah massa Prabowo bisa seantusias dan seramai saat kunjungan Anies Baswedan? Apakah pengurus partai Gerindra bisa menggalang massa yang datang secara sukarela atau dengan cara lain?

Terlepas dari fenomena yang disampaikan di atas, publik Sumatera Barat yang punya karakter politik yang khas sudah memiliki calon presiden alternatif lebih kompeten, terbukti prestasinya, jelas rekam jejaknya, serta berada dalam kondisi kesehatan dan usia yang ideal untuk memimpin Indonesia. Calon presiden tersebut adalah Anies Baswedan.

— sekian —

Print Friendly, PDF & Email