Opini  

Cerdas Menggunakan Media Sosial untuk Pembelajaran Bahasa

Oleh: Rahmi Eka Putri
(Mahasiswi Program Doktor Ilmu Keguruan Bahasa FBS-UNP)

Pada era globalisasi saat ini hampir seluruh aspek kehidupan mengalami perubahan yang sangat pesat. Tidak dapat dipungkiri lagi, belakangan ini banyak pelajar yang mengakses media sosial untuk mencari informasi dan sumber belajar. Dalam dunia pendidikan, media sosial merupakan sebuah media yang isinya diciptakan dan didistribusikan melalui sebuah interaksi sosial yang mana pertumbuhan media sosial selama beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan tentang cara pemanfaatan internet bagi penggunanya dalam dunia pendidikan.

Secara fungsinya, media sosial dikondisikan sebagai bentuk kolaborasi dan kreativitas penggunanya. Namun sayangnya saat ini, masih banyak masyarakat, terutama guru dan pelajar, menggunakan media sosial sebatas untuk tujuan hiburan semata. Bahkan masih ada beberapa guru yang beranggapan bahwa menggunakan media sosial merupakan hal yang tidak berfaedah. Mereka belum menyadari bahwa sesungguhnya media sosial dapat menjadi salah satu media yang menarik dalam pembelajaran khususnya pembelajaran bahasa.

Saat ini proses belajar mengajar tidak hanya terfokus pada penyampaian informasi yang dibatasi oleh dinding-dinding kelas. Seiring dengan perkembangan zaman, media sosial muncul sebagai alat yang memungkinkan proses pendidikan dilakukan dalam ruang lain secara maya. Penggunaan media sosial secara formal dapat diartikan sebagai kombinasi antara belajar secara analog maupun secara online.

Komunikasi media sosial yang terintegrasi dengan baik melahirkan lingkungan belajar yang baru, dan peran guru perlahan berubah karena adanya teknologi media yang berkembang. Pada saat ini peran guru tidak hanya sebagai pemberi pengetahuan saja, tetapi juga sebagai pihak yang menfasilitasi pemberian pengetahuan karena informasi dan ilmu yang didapat oleh para pelajar tidak lagi hanya didapat dari guru saja bahkan Media sosial telah menjadi sebuah sarana umum yang dipergunakan oleh para pelajar dalam kehidupan sehari-hari. Penyebaran informasi yang terjadi dalam kalangan pelajar terbilang sangat cepat akibat media sosial yang memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap kalangan.

Apakah media sosial ikut berperan dalam dunia pendidikan? Iya tentunya. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya metode baru dalam pembelajaran yang menggunakan media sosial sebagai media pembelajaran. Kegiatan belajar pun menjadi lebih mudah saat media sosial digunakan untuk pembelajaran. Melalui media sosial pelajar dapat lebih kreatif dan mandiri dalam belajar, sehingga kualitas pelajar pun dapat meningkat. Dengan meningkatnya kualitas pelajar tentu mutu pendidikan pun semakin baik.

Baca Juga :  "Kegamangan" Pemkab Tanah Datar Menentukan Sikap Atas Sengketa Lahan

Beberapa media sosial yang dapat digunakan dalam pembelajaran, diantaranya adalah Facebook, Twitter, Blog, Instagram serta Youtube. Proses pembelajaran akan menjadi lebih baik ketika guru mampu memanfaatkan media sosial semaksimal mungkin, dengan cara meminimalisir dampak negatifnya.

Dengan demikian, media sosial dapat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran, dengan cara menjadikannya sebagai tempat penyalur bakat serta menjadi sarana informasi bagi pelajar. Dampak positif dari penggunaan media sosial dalam pembelajaran diantaranya adalah siswa dapat memperoleh dan menambah pengetahuan baru. Media sosial menyajikan berbagai macam informasi dengan penyajian yang menarik. Melalui media sosial siswa bisa menemukan berbagai bentuk percakapan yang otentik. Sehingga pelajar tidak hanya memperoleh content knowledgenya tetapi juga melihat konteks dimana percakapan tersebut dilaksanaan dan bagaimana pengucapan kata yang benar.

Selanjutnya, media sosial dapat membantu siswa untuk mengenal dan mempelajari teknologi karena media sosial sejatinya lahir sebagai akibat dari perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, sehingga menuntut pelajar untuk mengenal dan mempelajari teknologi lebih jauh. Dengan seringnya siswa menggunakan teknologi, mau tidak mau mereka harus menguasai teknologi lebih baik lagi agar dapat membantu dalam proses pembelajaran selanjutnya.

Kemudian, tak dipungkiri bahwa semakin pesatnya perkembangan teknologi akan berdampak pada perkembangan metode pembelajaran. Kini semakin banyak perguruan tinggi atau bimbingan belajar yang menerapkan pembelajaran yang menggabungkan pembelajaran secara online dan offline (blended learning). Bahkan, selama masa pandemi yang terjadi dua tahun belakangan ini telah membuka kreativitas guru untuk menciptakan proses pembelajaran yang menarik melalui penggunaan media sosial ini.

Dampak positif dari penggunaan media sosial dalam pembelajaran yang paling sering penulis temukan adalah meningkatnya motivasi serta kreativitas siswa dalam belajar. Khususnya dalam pembelajaran bahasa asing, ketika siswa diminta untuk berpatisipasi aktif di kelas, mereka akan cenderung pasif karena merasa tidak PD dengan kemampuan yang dimiliki. Namun, ketika guru meminta siswa untuk mengungkapan ide di media sosial, mereka sangat bersemangat dan saling berlomba untuk melakukannya. Kemudian juga, adanya media sosial meningkatkan kreativitas mereka dalam belajar. Banyaknya youtuber yang bermunculan saat ini memotivasi siswa menjadi lebih kreatif dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Baca Juga :  MPTD Desak Pemkab Tanah Datar Rampingkan OPD

Selama pembelajaran daring dimasa pandemi ini kita melihat banyak kanal youtube yang bermunculan yang pada umumnya itu merupakan kanal yang dibuat oleh siswa untuk menjadi wadah pengumpulan tugas mereka. Disamping itu, guru juga mulai mempost materi ajar di akun sosial media mereka, sehingga saat ini media sosial seperti Facebook dan Instagram mulai dipenuhi dengan video tentang materi pembelajaran. Tentu saja hal ini menjadi wadah untuk saling berbagi pengetahuan diantara siswa. Dengan demikina, media sosial bukan lagi sebagai sebuah platform untuk tempat “ajang pamer” bagi penggunanya melainkan juga sebagai sarana untuk belajar.
Namun, biar begitu bukan berarti media sosial tidak memiliki dampak negative jika tidak ada kontrol dalam penggunaanya. Malah bisa menyebabkan kesalahan dalam proses pembelajaran. Salah satunya yaitu mengurangi kemampuan siswa untuk menulis dengan benar.

Beberapa media sosial memiliki keterbatasan ruang untuk menulis dengan kata-kata yang lengkap. Misalnya twitter yang tidak lebih dari 140 karakter membuat siswa harus mengekspresikan ide atau gagasannya dengan menyingkat kata. Seringkali, penyingkatan kata pun menggunakan bahasa campuran, Inggris dan Indonesia. Hal ini tentunya dapat berdampak pada kemampuan menulis siswa terutama terkait teknis penulisan. Kemudian, penggunaan media sosial yang tidak terkontrol juga dapat mengurangi perhatian siswa terhadap materi pembelajaran. Hal ini disebabkan siswa terlalu sibuk mengecek status terbaru orang lain dan kemudian memberikan komentar. Perhatian yang teralihkan ini dapat mengganggu proses pembelajaran dan berdampak pada kemampuan siswa untuk berkonsentrasi yang nantinya mengarah pada anjloknya prestasi akademis.

Kehadiran media sosial dalam jagad komunikasi antar manusia telah memberikan dampak besar terhadap pola komunikasi antar manusia khususnya komunikasi interpersonal atau komunikasi antar pribadi. Dengan kata lain, media sosial memberikan pengaruh terhadap pola interaksi individu dan hal ini juga merupakan salah satu contoh pengaruh media dalam interaksi individu. Media sosial memang ampuh dalam membantu siswa pemalu untuk berkomunikasi dengan siswa lainnya atau orang lain. Namun apabila hal ini terus dibiasakan tanpa adanya motivasi untul melakukan komunikasi secara langsung, tentu siswa akan kesulitan berinteraksi nantinya. Tidak mungkin proses pembelajaran akan selalu dilakukan secara daring, khususnya untuk pembelajaran bahasa. Karena sejatinya belajar bahasa berarti belajar menggunakan bahasa tersebut dalam komunikasi yang real.
Berdasarkan pembahasan yang dipaparkan di atas, dapat disimpulkan bahwa perkembangan teknologi dan informasi telah banyak memberikan sumbangan dalam kehidupan manusia, khususnya dalam kegiatan pembelajaran yang bertujuan untuk memudahkan proses belajar mengajar dan memecahkan masalah belajar.

Baca Juga :  Menyigi BPRN: Antara Harapan dan Kenyataan

Salah satu kemudahan yang didapat adalah pemanfaatan media pembelajaran yang berbasis teknologi modern. Media sosial merupakan salah satu bentuk teknologi modern yang digunakan untuk berinteraksi antara individu satu dengan lainnya. Disamping itu, tidak dapat dipungkiri bahwa media sosial juga memiliki dampak-dampak negatif dalam proses pembelajaran. Sebagai tenaga pendidik seorang guru harus pandai mengarahkan siswanya dalam menggunakan media sosial untuk proses pembelajaran agar dapat meminimalisir dampak negative tersebut.

Peran media sosial dapat dimaksimalkan untuk menunjang keberhasilan pendidikan dan pembelajaran bahasa melalui pemanfaatan berbagai media sosial. Media sosial yang dimanfaatkan antara lain facebook, YouTube, dan instagram. Ketiga media sosial tersebut memiliki pengguna paling banyak di kalangan pelajar. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa Indonesia yang menjadikan media sosial sebagai media pembelajaran, dapat diterapkan sesuai kebutuhan kurikulum dan menyesuaikan media sosial apa yang dimiliki siswa. Dalam hal ini, guru dapat memaksimalkan usahanya untuk memodifikasi media pembelajaran yang akan digunakan, disesuaikan dengan kemampuan siswa dan materi yang akan dibahas agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. (*)

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600