Opini

Cabup Masih “Marem”

Sebuah Opini: Irwan Malin Basa

Masa kampanye Pilkada sudah berjalan selama dua Minggu. Sepertinya keempat Paslon cabup di Tanah Datar kelihatan masih “ma-rem” atau “menahan.” Apa yang mereka rem? Dan apa yang mereka tahan? Mungkin perlu disimak. Masa kampanye masih sampai tgl 5 Desember 2020.

Konotasi kata “Ma-rem” disini adalah sebuah konotasi positif yaitu menahan serangan yang bersifat material atau logistik. Yaa… Tidak terlalu menyolok peredaran uang selama kampanye meskipun ada “receh receh” yang beredar dan muncul ke permukaan dan “digoreng’ oleh media. Mengapa?

Harus diakui bahwa pandemi Covid-19 membuat ekonomi semakin merosot dan tidak tertutup kemungkinan akan adanya resesi di negara ini. Bagi Paslon cabup tentu semuanya harus diperhitungkan karena biaya kesuksesan pilkada itu relatif; bisa besar, bisa juga kecil. Tidak ada angka yang pasti.

Jika memang para cabup sengaja tidak menggunakan uang untuk memperoleh suara tentu ini patut kita acungi jempol. Sebab jangan dibiarkan masyarakat kita terbiasa dengan politik uang. Berikanlah pembelajaran politik yang baik dan benar. Tapi apa yang kita khawatirkan adalah karena memang para cabup tidak memiliki modal yang cukup untuk sebuah pilkada!

Jika kondisi ini terbaca oleh para cukong politik alias pemilik modal (kapitalis) tentu mereka tidak segan menggelontorkan uang demi mendukung Paslon tertentu yang memiliki peluang menang. Tapi jika mereka (pemilik modal) berani berinvestasi tentu ada deal deal yang harus ditandatangani. Mungkin saja deal deal itu merugikan daerah dan masyarakat di masa depan.

Sebaliknya, kondisi ekonomi masyarakat sudah porak poranda. Mungkin banyak juga yang berharap agar ada aliran “angpao” dari para cabup setidaknya untuk penyambung hidup sehari dua hari. Tapi kondisi seperti itu tidak kita harapkan. Sudah tepat rasanya KPU sebagai penyelenggara pemilu membuat aturan pilkada yang fair dan ketat meskipun masih ada peluang untuk melanggar aturan.

Menurut saya, biarlah para cabup tersebut sepakat untuk tidak melakukan politik uang. Tawarkanlah ide ide cemerlang dan logis untuk pembangunan daerah ini sehingga masyarakat dapat menentukan pilihannya secara cerdas. Bangkitkan partisipasi politik masyarakat karena kesuksesan pilkada bulan hanya tanggung jawab KPU saja tetapi tanggungjawab kita semua.

Andaikan semua cabup tersebut “dikarantina” untuk tidak bermanuver dengan politik uang tentu mereka boleh dikatakan para cabup yang ideal. Siapapun yang terpilih adalah wujud keinginan masyarakat. Tanpa uang, tanpa janji palsu, tanpa iming iming, tanpa fitnah dan tanpa tebar pesona saja. Tetapi mungkinkah?

Kalau saya rujuk judul tulisan diatas, “Cabup Masih Marem” tentu fenomenanya masih kelam. Apakah “Marem” karena memang tidak ada yang akan diberikan? Atau karena “Marem” memang untuk niat kebaikan sebuah proses pilkada? Wallahu alam.

Related posts

Manuver Politik Hanura di Tanah Datar

Admin Jurnal Minang

KKN di Masa New Normal

Admin Jurnal Minang

Motivasi Perantau Maju di Pilkada Perlu Dipertanyakan

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment