Opini  

Bajak Gratis Era Baru, Dimanakah Ia Kini?

Opini Oleh: Muhammad Intania, SH
Sekretaris LBH Pusako

Akhir akhir ini suara netizen Tanah Datar menunjukkan eskalasi semakin meningkat mempertanyakan tentang realisasi program unggulan Era Baru khususnya perihal Bajak Gratis. Apakah program tersebut mungkin direalisasikan? Tapaso Basiang tabu ka ureknyo, bapulangan siriah ka gaganyo.

Baiklah, sebelum menjawab pertanyaan di atas, ada baiknya saya jelaskan dulu posisi saya. Saya selama ini orangnya tidak memihak kepada kelompok tertentu dan lebih memilih bersikap objektif. Makna objektif dengan netral berbeda lho. Objektif itu adalah berpihak pada apa yang dianggap benar. Sedangkan netral adalah sikap tidak memihak. Saya bukan kelompok pendukung siapapun, tapi saya bersikap objektif pada apa yang saya anggap benar.

Nah ini jawaban saya: Program Bajak Gratis memungkinkan untuk direalisasikan, tapi dengan beberapa catatan. Kalau memang memungkinkan dilaksanakan, kok sebelumnya malah turut mempertanyakan?

Jawabannya: pertanyaan itu agar kita mendapat jawaban resmi (official) mengenai metode pelaksanaan, anggaran, dan tenggat waktunya. Tapi karena jawaban resmi tidak kunjung muncul, terkesan “malu malu” padahal sudah 8 bulan berjalan tak jelas wujudnya (mirip program mobil Esemka, hehehe). Untuk itu saya berinisiatif untuk berdiskusi dengan beberapa tokoh daerah yang tidak dapat saya sebutkan satu persatu. Hasil akhirnya, memungkinkan dilaksanakan dengan beberapa catatan.

Sebenarnya kegalauan publik saat ini khususnya di kalangan petani dan “tukang hoyak” tidak perlu terjadi jika Bupati Tanah Datar melalui bagian Humasnya segera menginformasikan kondisi riil perkembangan program unggulan dan action plan nya. Akibat respon yang lambat ini menjadikan segelintir pendukung seolah terpaksa bermain silat kata untuk memoles situasi bagaikan “bak pandai baminyak aia” hingga sampai ada yang mengeluarkan statemen konyol yang justru membuat netizen cadiak pandai tersenyum simpul.

Ingat lho, pemerintahan Era Baru ini sudah 8 bulan berjalan, tentunya harus berani menentukan skala prioritas terlebih dahulu dan disampaikan kepada publik agar publik menaruh simpati dan dapat memberi dukungan.

Baca Juga :  Melihat Barang Barang Koleksi Museum Istano Pagaruyung

Lumrahnya pergantian pemimpin, tentu setelah serah terima tongkat komando dipelajari dulu laporan pertanggungjawaban, neraca keuangan, hutang piutang, aset, perjanjian yang akan jatuh tempo dan termasuk kondisi SDM yang akan dikelola, dll. Nah dari sana dapat dipetakan potensi SWOTnya untuk mengambil rencana kebijakan dan strategi guna disinkronkan dengan Visi Misi Era Baru. Visi misi sudah taserak ka nan rami, talewa ka nan banyak.

Bukankah ada program pemerintah lama yang sejalan dengan Era Baru? nah tinggal ditempel dan dilanjutkan saja. Jadi pelaksanaan program unggulan tidak harus menunggu tahun depan setelah dituangkan dalam rencana strategis hingga berwujud Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD), kecuali memang ada progul yang belum terakomodir pada periode berjalan. “Kanai ota se wak mah” ujar Wan Labai.

Baiklah, kalau dianggap tidak mudah, sudahkah mencoba berdiskusi dengan para ahli di bidang terkait? Dengan para senior atau pensiunan atau mantan politisi yang menguasai peta politik Tanah Datar? Sudah tahukah dengan istilah “Tim Percepatan Pembangunan Daerah?” Sudah tahukah dasar hukumnya?

Kalau belum tahu, maka saya anggap wajar terkesan lambat. Tapi menjadi konyol kalau sudah tahu tapi merasa sok mampu bekerja sendiri dan engga bisa me-manage kabupaten ini dengan time schedule yang terencana.

Berikut beberapa indikator awal bahwa Program Mesin Bajak Gratis itu memungkinkan untuk diwujudkan sebagai berikut:

  1. Sepengetahuan saya, sejak Februari 2021 para Petugas Penyuluh Nagari sudah mendata luas lahan dan jumlah mesin bajak sawah serta kepemilikan mesin bajak sawah yang ada di areal persawahan Kelompok Tani. Anggap saja itu sebagai pemutakhiran data mesin bajak untuk keperluan perencanaan Program Bajak Gratis.
  2. Kemudian ada informasi dari Pemkab Tanah Datar tentang wacana membuat Brigade Alsintan walau metode dan mekanisme kerja serta penganggarannya masih abu-abu.
  3. Pertengahan Juli 2021 publik mendapat informasi bahwa ada bantuan Alsintan dari Anggota DPRD Provinsi yang penerimanya sudah ditentukan. Setidaknya ini menambah total populasi Alsintan di Kabupaten Tanah Datar.
Baca Juga :  Menakar Peluang Perempuan di Pilkada Tanah Datar

Dengan fakta tersebut, maka yang perlu dilakukan saat ini adalah (tidak bermaksud menggurui):

  1. Dibentuk tim khusus untuk merealisasikan program ini secara professional.
  2. Ditetapkan metodenya, ditetapkan penganggarannya, ditetapkan kesinambungannya, ditetapkan pengelolaannya hingga menjadi sebuah Keputusan Bupati.
  3. Pemerintah lebih baik bersinergi dengan para pemilik mesin bajak pribadi dan bekerjasama dengan Kelompok Kelompok Tani yang aktif untuk menjalankan program Bajak Gratis. Karena elemen dasar inilah yang lebih menguasai areal pertaniannya masing-masing. Mereka tahu Jenis mesin bajak yang cocok, keamanan mesin, perawatan mesin, dll.
  4. Beberapa kelompok tani bergabung dan gabungan kelompok tani ini bekerjasama dengan BumNag masing-masing Nagari untuk pengelolaan mesin bajak dan pembiayaan kepada operator mesin bajak serta penagihan biaya operasi.
  5. Perawatan mesin, gaji operator, coverage areal kerja, dll (atau hanya sebatas penggantian biaya bajak) bisa dimanage oleh BumNag sehingga BumNag pun bisa dapat keuntungan atas peran sertanya.
  6. Pemerintah tinggal menganggarkan dan membuat MoU dengan BumNag BumNag sekabupaten Tanah Datar dan mengawasi pelaksanaan satu satu Program Unggulan ini sambil mengevaluasi perkembangannya.
  7. Saya justru berpendapat bahwa keberadaan Brigade Alsintan belum diperlukan, yang justru diperlukan adalah Brigade Pertanian yang bertugas mengelola sumber daya pertanian dari hulu hingga hilir sehingga Kabupaten dapat menunggu ketahanan pangan yang diidamkan.
  8. Brigade Pertanian bekerjasama dengan BumNag dan Perusda dalam menjual hasil pertanian sehingga kestabilan harga pasar dapat dikendalikan. Petani puas, pedagang puas dan konsumen juga senang.
  9. Brigade Pertanian dapat memberi masukkan kepada pemerintah untuk menciptakan daerah produksi yang potensial, seperti daerah X Koto dan Salimpaung untuk penghasil sayur mayur, daerah Rambatan & Lintau untuk sentra penghasil jagung yang bisa memenuhi kebutuhan jagung untuk peternak ayam di Lintau, sisanya dikirim keluar daerah, Daerah Lima Kaum dan Saruaso khusus untuk penghasil padi. InsyaAllah pasti hasil sangat menggembirakan. Jadi bisa juga meminimal tengkulak dan rentenir. Tambah bagus kan citra Era Baru jadinya, hehehe.
Baca Juga :  Mengenang Musibah Kebakaran Istano Pagaruyung Dan Koleksi Museum yang Tersisa

Kalau masih belum yakin juga, coba deh belajar ke Provinsi lain dan modifikasi penerapannya sesuai kearifan lokal Luhak Nan Tuo. Tapi masalah dasarnya anggaran kita kecil, lho katanya punya kedekatan dengan Pusat? Kalau tidak turun dana dari Pusat, coba Pemerintah Daerah bekerjasama win win solution dengan pengusaha.

Masak mau saya tunjukin caranya? Kan saya ini apalah, rakyat badarai alias rakyat kacang padi. Bukankah orang sekeliling lingkar kekuasaan yang lebih arif dan bijaksana serta smart untuk membantu realisasi program unggulan Bajak Gratis ini.

Lantas, apa “catatan” yang dimaksudkan itu?

  1. Tim Realisasi Program Bajak Gratis harus bekerja sesuai job description masing-masing dan memberi laporan atau pertemuan secara berkala.
  2. Tim bekerja sesuai tenggat waktu yang sudah ditentukan.
  3. Memberi informasi kepada publik secara berkala agar tim tidak dinilai diam saja.
  4. Jelas proposal biaya dan target yang akan dicapai.
  5. Bupati harus memegang kendali untuk memantau setiap progress pencapaiannya.
  6. Melibatkan semua elemen terkait dan lepaskan diri dari kepentingan politis dan kepentingan kelompok.
  7. Identifikasi setiap masalah / kendala dilapangan dan cari solusi secepatnya.

Nah, itu pandangan objektif saya tentang program Bajak Gratis ini. Bak kata pepatah, bakubak an Kulik, banampak an isi. Tinggal lagi bagi tuan tuan mengeksekusi.

Jadi kesimpulan akhirnya bahwa Program Bajak Gratis bisa dilaksanakan bilamana dikerjakan dengan professional dan ada kemauan bersama untuk merealisasikannya. Program ini tidak akan terlaksana bilamana niat awalnya hanya untuk menarik simpati publik ketika kampanye dan memang tidak ada itikat untuk merealisasikannya.

Berbuatlah, jangan lips service saja. Nan Iyo katokan Iyo, nan indak katokan tidak. Usah rancak di Labuah sajo.

Saya tutup tulisan saya ini dengan sebuah Kata Mutiara:
Objektivitas yang tidak memihak itu sendiri adalah hasrat, untuk yang nyata dan untuk kebenaran. (Abraham Maslow).

Print Friendly, PDF & Email
banner 120x600