Bagian II: Ajo Yusri Dimata Guru Besar

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Prof. Dr. Oman Fathurrahman, MA. (Guru Besar Filologi di UIN Syahid, Jakarta).

Silsilah al-Bawani dalam tarekat Syatariyah juga langsung tersambung kepada Khalifah utama tarekat ini, Syekh Abdurrauf al-Sinkili (w. 1693) di Aceh. Tapi tak ada catatan sejarah yang menyebut nama al-Bawani.

banner 336x280

Ajo Yusri menduga kuat Al-bawani berasal dari Bawan, sebuah daerah di Sumatra Barat. Mestinya sezaman dengan Syekh Burhanuddin Ulakan, tokoh idola Ajo Yusri di Pariaman. “Ini temuan besar dalam studi pernaskahan dan sejarah Islam di Nusantra, Jo”, saya sering mengingatkan.

Ajo Yusri pun kembali “bertapa” di Ciputat, membaca, menganalisis, dan menulis. Ia memang tidak pernah kekurangan data, petualangan panjangnya di lapangan berbuah puluhan sumber primer tersimpan di laptopnya. Hanya pengabdian tulus ke istrinya yang membuat kuliahnya jeda, tiga tahun!

Tanggal 26 Juni lalu, Ajo Yusri melaporkan draft disertasinya, untuk ujian pendahuluan (di kampus lain istilahnya ujian hasil penelitian). Perfect! Saya puas dengan draft itu. Ujian pun dilaksanakan pada 30 Juli 2021. Lulus dengan amat memuaskan! Ajo Yusri amat bersuka cita. Tapi saya agak tercenung, saat ujian, ia sempat batuk-batuk, dan menangis tersedu ketika Prof. Azyumardi Azra, promotor pertama, menanyakan kabar istrinya. Ah, mungkin Ajo Yusri hanya keselek.

Mengejar batas waktu, Ajo Yusri harus segera ujian promosi, batas akhirnya 13 Agustus 2021. Tapi itu bukan perkara sulit baginya. Catatan-catatan dari penguji segera direspon dan diperbaikinya.

Pagi pukul 07.59, 3 Agustus lalu, Ajo Yusri berkirim pesan: “Assalamu’alaikum wrwb. Moga Prof sehat selalu. Aamiin. Mohon maaf, baru hari ini saya bisa berkabar, karena sejak pasca ujian sampai kemarin saya tidak bisa apa2, batuk tinggi, sakit kepala, dan panas. Sebab itu revisi ujian pendahuluan blm bisa saya kerjakan dg sempurna.Mohon arahan dari Prof mengingat jumat batas akhir daftar promosi. Terima kasih. Yusri Akhimuddin”

Baca Juga :  Duka Lapangan Cindua Mato di Hari Nan Fitri

Saya memintanya istirahat. “Jangan memaksakan, kesehatan lebih penting. Disertasi Ajo Yusri sudah lebih dari cukup untuk ujian promosi”, jawab saya.

Gejala sakit yang disebutkannya membuat saya bertanya: “Sudah tes Covid, belum Jo?”. Ia menjawab belum. Belakangan saya tahu dari teman sekamarnya, Pak Irvani, yang juga kandidat doktor di kampus yang sama, bahwa Ajo Yusri dalam beberapa hari sangat fokus menyelesaikan revisi disertasinya.

Rabu malam, 4 Agustus, saya mendapat kabar dari rekan seangkatannya, Ajo Yusri masuk rumah sakit, dan esoknya dinyatakan positif Covid-19. Saya sedih sekali mendengarnya.

Saya segera membantu proses pendaftaran ujian promosinya yang tinggal teknis belaka. Kami permudah teknis tanda tangan para pembimbing dan penguji. Para kolega Ajo Yusri sangat kompak dan penuh solidaritas membantu. Saya hubungi pimpinan Sekolah Pascasarjana agar ada diskresi tenggat waktu ujian promosi. Mereka semua mafhum. Beres, tinggal prosesi ujian!

Kondisi Ajo Yusri di Rumah Sakit fluktuatif. Saturasinya naik turun, selang oksigen tak pernah lepas dari hidungnya. Saya hampir tiap hari bertukar pesan dengannya. Kadang ia mengeluh, tapi lebih sering optimis.

Saya membesarkan hatinya, mengirimnya file-file Mp3 murottal al-Quran untuk didengarkan, agar membantu menenteramkan. Saya menyarankannya untuk melahap habis jatah makan, urusan disertasi aman, tinggal menunggu Ajo Yusri bisa video call, bisa ujian, yang penting segera sehat kembali. Ia pun bersemangat, dan lapor bahwa sudah mengikuti saran yang saya berikan.

Ahad pagi, 15 Agustus 2021, Pak Irvani mengabari, kondisi Ajo Yusri memburuk, dan sempat bilang berpesan: minta pulang. Sekira pukul 10.14, mahasiswa bimbinganku itu kembali kepada sang Pencipta. Ia benar-benar pulang.

Ia tak kuasa melawan keganasan Covid yang menggerogoti tubuhnya. Jiwanya masih melawan, tapi fisiknya tak berdaya. Ia sadar sepenuh hati sampai detik-detik terakhir Malaikat Izrail merenggut nyawanya, dengan syahadat di bibirnya. Prosesnya sangat cepat, arwahnya keluar dengan tenang. Belakangan, saya melihat foto wajahnya, amat-amat teduh, penuh ketenangan, dengan senyum bahagia seperti biasanya. Itu wajah yang selama ini saya kenal.

Baca Juga :  Pemimpin Masa Depan

Inna lillah wa inna ilaihi roji’un.

Selamat jalan, Ao Yusri. Keberangkatanmu ke Jakarta untuk talabul ‘ilmi, dengan restu istri dan keluarga, sangat mulia. Allah akan mencatatnya sebagai fi sabilillah. Ajo juga kini menjadi bagian dari para syuhada, wafat syahid. Itu janji Nabi kita, Jo!

Ahad malam, 15 Agustus, ba’da ‘Isya, Ajo kami shalatkan dan doakan. Dalam mobil ambulan, Ajo terbaring dengan tenang, segera pulang untuk beristirahat selamanya di Pauh Kambar, kampung halaman Ajo. Mungkin Ajo akan segera bertemu dengan Syekh Burhanuddin Ulakan, yang sering Ajo doakan.

Perjuangan Ajo Yusri tidak sia-sia. Para promotor dan penguji di SPs UIN Jakarta sudah bersepakat menganugerahkan gelar Doktor kepada Ajo. Doktor Bidang Studi Pengkajian Islam, Konsentrasi Filologi. Ajo adalah Doktor ke 1295 Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Istri dan anak-anak Ajo akan segera menerima dokumen resminya.

Manusia hanya berencana, Allah Yang punya Kuasa. Itulah keyakinan yang membuat kami ikhlas melepasmu, Jo. Teriring doa untukmu, Dr. Yusri Akhimuddin. Saya yakin Ajo bahagia di alam baqa sana….

Ya ayyatuhan nafsul muthma’innah, irji’i ila rabbiki radliyatan mardliyyah, fadkhuli fi ‘ibadi wad khuli jannati…(*).

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan