Budaya Opini Pendidikan

Antara Rumah Gadang dan Rumah Adat

Oleh: E. Dt. Rangkayo Sati

Berbicara seputar hakekat yang hilang di Minangkabau tentang rumah gadang dan rumah adat memang butuh kejelian memahami makna filosofisnya. Sering kita menyamakan keduanya padahal jelas berbeda. Rumah adat adalah milik kaum namun setiap rumah gadang belum tentu milik kaum kecuali kita memahaminya sama.

Mari sama sama kita tinjau. Rumah gadang disebut Istana Basa/Besar dan rumah adat disebut rumah kaum. Kenapa rumah gadang disebut istana basa/besar?

Bertolak dari keterangan di dalam Alquran Surat Ali Imran ayat 96
“Ini rumah mula mula didirikan…..
“Rumah pertama” dan “Rumah Lama”
Disebut Rumah gadang (besar) karena ada yg “Besar” disana yaitu
Tempat manusia pulang pergi. Di kebesarannya itu mampu menampung seluruh manusia pulang pergi.

Kenapa dikatakan Rumah adat Minangkabau, atau disebut Rumah kaum?

Di rumah inilah kaum pemilik Rumah gadang Istana basa terpatri, dan kaum itu membawa misi perbaikan Budi dan Akhlak. Budi dan akhlaq itu berasal dari pemilik Nya di Rumah lama Istana basa, dan si kaum yang membawa misi perbaikan budi akhlak inilah si Adat itu saudara.  Diutus ketika janin berumur 4 bulan sepuluh hari (Atsajaddah ayat 9) semasa di rahim ibunda.

Padi masak, jaguang maupiah, taranak bakambang biak. Urang kampuang lah bakambangan. Artinya telah sempurna kejadian manusia itu.

Begitu si kaum tadi terlahir ke dunia maka “hukum tagak, undang balaku baginya (Attaqabun ayat 2).

Mampukah dia Nya menghubungkan Rumah adat ini dengan Rumah Gadang -Isra-bejalan? Mampukah si adat ini kembali isra-bejalan ke Rumah lama kepada “orang besar” di istana besar/basa itu? Jika dia mampu kembali, itulah anak Minang sudara, kaum orang Minang. Jika tidak, itulah yang dikiaskan kerbau.

Anak Minang itu diseru setiap waktu; lima kali sehari semalam di waktu berjalan. Untuk pulang untuk kembali. Anak Minang tidak boleh lupa jalan pulang.

Dia diseru dari “Rumah Gadang” dengan seruan sayang manja sang Basa/besar dari rumah gadang dan Rumah Kemenangan dengan seruan Haiya alas Shalah…mari Shalat! Ke tempat kemenangan rumah orang yang menang dan rumah orang besar tempat kesatuan ayah bunda (Albalad 1, 2, 3).

Maka setelah diseru dengan sebutan sayang sang Raja pemilik Istana basa
yang iya Nya kaumnya melangkahlah dengan niat dan tertib.
Di mana pintu masuk di sana pintu keluar. Di mana pintu keluar, di sana pintu masuk. Disebut pintu rumah adat dan pintu rumah gadang.

Tentu tak mudah memahami yang tersirat apalagi yang tersuruk. Tak cukup tulisan ini saja. Jika pembaca bingung membaca tulisan ini, itu pertanda ada keingintahuan tentang rumah gadang dan rumah adat.

Related posts

Antisipasi Corona Dinas Pendidikan Liburkan Siswa SD – SLTP

Admin Jurnal Minang

Lockdown Dalam Konteks Budaya Minangkabau

Admin Jurnal Minang

Antara Webinar dan Ota Lapau

Admin Jurnal Minang

Leave a Comment