Ajo Yusri (Dr.Yusri Akhimuddin, MA.Hum) Di Mata Guru Besar

  • Bagikan
banner 468x60

Oleh: Prof. Dr. Oman Fathurrahman, MA (Guru Besar Filologi UIN Syahid, Jakarta)

Namanya Yusri Akhimuddin. Ia anak Pauh Kambar, sebuah nagari di kecamatan Nan Sabaris, Padang Pariaman, Sumatera Barat, jarak kampung halamannya ini lebih kurang 4 KM dari makam salah seorang ulama besar penyebar Islam di Minangkabau, Syekh Burhanuddin Ulakan. Mungkin karena dari “anak kampung”, ia amat rendah hati, sedikit pemalu, tapi cerdas.

banner 336x280

Saya mengenalnya sejak awal tahun 2000an. Saat itu saya mulai tertarik dengan khazanah manuskrip Minangkabau, khususnya manuskrip tarekat Syatariyah, yang kemudian menjadi topik penelitian disertasi saya (selesai 2003).

Ajo Yusri, saya selalu menyapanya demikian, adalah seorang yang berseri. Senyum selalu tersungging di bibirnya, di antara kumis dan brewok tipisnya. Ia berdedikasi tinggi di bidang penyelamatan manuskrip Minangkabau khususnya. Kalau diajak “berburu” manuskrip, ia akan tinggalkan semua kegiatan lainnya. Jadwal tugas sebagai dosen IAIN Batusangkar diatur sedemikian rupa, disesuaikan. Bak seorang yang hobi berburu, perlengkapan berpetualang segera ia siapkan.

Jadilah kami sering menjelajah pelosok negeri Minangkabau, bertamu ke para Buya di surau-surau, berziarah ke makam para ulama Minang, dan tentu menemukan serta membaca ragam manuskrip yang selalu membuat adrenalin riset naik. Saya sering dibuat kagum oleh kemampuan Ajo Yusri dalam membaca manuskrip. Kader seperti ini harus diorbitkan dalam berbagai riset dan seminar. Sayangnya, ia masih bergelar sarjana (S1).

Saya lalu menyarankan dan mendorong Ajo Yusri segera melanjutkan studi Magister filologi. Singkat kata, ia mengikuti saran itu, kuliah di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, bidang filologi Islam, atas beasiswa dari Kementerian Agama. Saya lupa tahun berapa, tapi antara tahun 2010-2013.

Baca Juga :  Ingin Sukses di Pilkada Pakailah 5 M

Ia lulus dengan menulis tesis tentang manuskrip-manuskrip gempa di Nusantara. Saya sering mengutip karyanya, kalau ada gempa mendera kita. Takwil gempa dalam manuskrip-manuskrip itu amat menarik.

Setelah menggondol gelar Master, saya dan kawan-kawan seperjuangan di Minang mendorong Ajo Yusri untuk melanjutkan studi program Doktor. Saya sarankan di kampus yang sama, agar saya bisa langsung membimbingnya, dan dengan pengkhususan yang sama, filologi.

Ia pun kembali mendapatkan beasiswa dari Kementerian Agama. Akhir 2016 saya memberinya rekomendasi untuk riset pendek di Universitas Hamburg, Jerman. Ia amat bersuka cita, dan amat optimis bisa segera menyelesaikan disertasinya.

Manusia berencana, Tuhan yang Punya Kuasa. Itu ungkapan dan keyakinan klasik umat beragama.

Kembali ke Minang, istri Ajo Yusri sakit, dan amat membutuhkan perhatiannya. Ajo Yusri terpaksa harus off dari urusan akademik, dan fokus menemani sang ibu dari kedua putranya. Tiga tahun ia sabar menjadi suami dan bapak yang amat baik dan telaten. Ia tinggalkan semua téték bengék urusan disertasi. Sebagai promotor, saya sangat empati, dan tidak bisa mencegahnya.

Tiga tahun kemudian, mulai awal 2021, Ajo Yusri muncul lagi di Ciputat, ia bercerita bahwa istrinya sudah membaik, dan ia diizinkan, bahkan setengah disuruh oleh istrinya, untuk menyelesaikan studi doktoralnya. Akhir tahun ini, ia memang memasuki masa “injury time”, harus lulus.

Tingkat kebaruan (novelty) disertasi Ajo Yusri amat tinggi. Ia mengkaji manuskrip yang belum pernah disebut para sarjana, Tuhfat al-Ahbab, manuskrip karangan Syekh Nuruddin Abdurrahman al-Bawani, seorang ulama “misterius” abad 17.

Disebut misterius karena karyanya banyak, berbahasa Arab dan Melayu. Nama al-Bawani juga disebut dalam sebuah manuskrip Melayu di Mindanao, Filipina Selatan. Ini menunjukkan al-Bawani bukan tokoh sembarangan…… (Bersambung)

banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan